Peneliti Politik The Habibie Center
Keputusan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak
(BBM) agaknya tidak dapat diundur lagi. Pilihan itu menjadi kebijakan paling
rasional untuk ditempuh oleh pemerintah saat ini menyusul kenaikan harga minyak
dunia yang telah melampaui target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)
2012.
Kenaikan harga minyak dunia yamg kian menggila itu
dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah antara Iran versus Amerika Serikat yang
kian memanas. Situasi konflik di kawasan tersebut memang sangat rentan terhadap
harga minyak dunia. Selain itu, kenaikan harga minyak juga disebabkan resesi
ekonomi global di Eropa dan AS. Kompleksitas masalah di tingkat global itu
tentu berada jauh di luar jangkauan kita sehingga sulit untuk menghindar.
Lonjakan harga minyak dunia itu tentu akan membawa
dampak serius bagi perekonomian nasional. Harga minyak dunia yang terus berada
di atas level US$120 per barel otomatis akan mengakibatkan beban APBN
bertambah, sebab subsidi negara terhadap BBM masih cukup tinggi. Sementara itu,
asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN tahun 2012 hanya sebesar US$90
per barel. Keseimbangan APBN yang terganggu akibat lonjakan harga minyak dunia
cepat atau lambat akan membawa dampak negatif terhadap performa perekonomian
nasional secara keseluruhan.
Tidak ada jalan lain, untuk meminimalisasi efek
negatif dari akibat lonjakan harga minyak dunia, pemerintah perlu mendorong
efisiensi konsumsi BBM. Harga BBM yang murah karena ditopang subsidi pemerintah
merupakan salah satu sebab utama inefisiensi konsumsi BBM selama ini.
Mengacu pada data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI), dari sisi kemanfaatan sosial ekonomi subsidi BBM juga terbukti tidak
tepat sasaran. Konsumen BBM bersubsidi sebanyak 85 persen adalah kendaraan
pribadi. Sedangkan angkutan umum hanya menggunakan 4 persen dari total BBM
bersubsidi dan angkutan barang hanya 7 persen.
Berdasarkan data di atas terlihat jelas kelompok
masyarakat mana yang sesungguhnya menikmati subsidi BBM selama ini. Sungguh
tidak adil bila saat pemerintah tengah dipusingkan dengan lonjakan harga minyak
dunia, pada saat yang sama dana subsidi BBM itu justru lebih banyak dinikmati
oleh kelompok masyarakat mampu. Selain itu, jika pemerintah tidak menaikkan
harga BBM, maka beban subsidi di dalam APBN akan terus membengkak.
Selama ini masalah pemborosan anggaran dan
ketidaktepatan sasaran subsidi selalu menghantui Indonesia. Kita seakan tidak
pernah dapat lepas dari perangkap ini. Sungguh tidak adil bila saat pemerintah
tengah dipusingkan dengan lonjakan harga minyak dunia, pada saat yang sama dana
subsidi BBM itu justru lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat mampu.
Karena itu, dibutuhkan keberanian pemerintah untuk
mengambil langkah strategis dalam mengatasi efek negatif lonjakan harga minyak
dunia terhadap keseimbangan APBN. Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga
BBM merupakan salah satu wujud langkah strategis itu.
Memang, menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang
selalu dianggap tidak populer secara politik. Akan tetapi, menaikkan harga BBM
merupakan kebijakan yang produktif secara ekonomis. Jika pemerintah tidak
menempuh langkah itu, beban subsidi di dalam APBN akan terus membengkak.
Pergerakan roda pereknonomian terganggu, dan semua komponen bangsa ini,
termasuk orang miskin, juga akan menuai akibatnya.
Sebagai gambaran, saat ini total subsidi energi di
APBN 2012 mencapai Rp168 triliun, meliputi subsidi BBM dan tabung gas 3 kg
Rp123 triliun dan subsidi listrik Rp44 triliun. Dapat dibayangkan, jika langkah
menaikkan harga BBM tidak ditempuh pemerintah, sangat boleh jadi total subsidi
energi di APBN akan mencapai Rp 200 triliun. Angka itu jauh lebih besar
dibanding dana pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang
dikeluarkan pemerintah selama satu tahun.
Politik Pencitraan
Patut disayangkan, kebijakan baik dan rasional itu
kini justru menjadi ajang pencitraan bagi sebagian elite politik kita (baca:
kelompok oposisi). Sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang kian
lantang menyuarakan penentangan terhadap rencana kenaikan harga BBM merupakan
salah satu wujud hal itu.
Sebagai bagian dari kelompok oposisi, memang wajar dan
lumrah jika PDIP mengambil sikap kontra terhadap rencana kenaikan harga BBM.
Sudah menjadi tugas kelompok oposisi untuk mengingatkan dan melakukan koreksi
terhadap pemerintah selaku pemegang kekuasaan eksekutif dalam setiap langkah
pengambilan kebijakan. Namun, tugas mulia menjadi kehilangan makna ketika
berbalut dengan kepentingan jangka pendek berupa pencitraan politik.
Masih segar dalam ingatan publik tatkala Januari 2012
lalu Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputi, mengusulkan agar pemerintah
menaikkan harga BBM menyusul ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di
Selat Hormuz. Padahal, saat itu harga minyak dunia belum menyentuh level US$120
per barel. (tempo.co, Selasa, 12 Januari 2012). Dalam konteks itu, aneh
jika kini saat harga minyak dunia telah meroket di atas level US$120 per barel,
PDIP justru menunjukkan resistensi terhadap rencana pemerintah untuk menaikkan
harga BBM. Bahkan, dalam beberapa hal resistensi yang ditunjukkan partai
berlambang moncong putih itu terlihat sangat berlebihan.
Seakan tidak cukup dengan menyampaikan aspirasi
melalui kader-kader mereka di parlemen, PDIP juga melakukan mobilisasi massa
untuk melakukan aksi demonstrasi menentang kenaikan harga BBM. Suatu hal yang
sebetulnya tidak perlu dilakukan oleh partai pimpinan Megawati Soekarnoputri
ini. Sebagai partai politik ketiga terbesar di parlemen, PDIP semestinya
menggunakan arena parlemen sebagai sarana perjuangan, bukan melalui cara-cara
ekstraparlementer. Dengan melakukan mobilisasi massa untuk melakukan aksi
demonstrasi, maka--disadari atau tidak--sesungguhnya PDIP sedang menghinakan
diri sendiri.
Berpijak dari hal itu, wajar jika kini muncul kesan di
benak publik bahwa PDIP memanfaatkan isu kenaikan harga BBM sebagai ajang untuk
melakukan pencitraan agar terlihat seakan-akan peduli dengan kehidupan rakyat
kecil. Sebuah sikap yang culas, tidak fair, dan membawa implikasi buruk
pada proses pembelajaran demokrasi di Indonesia. Publik patut miris melihat
tingkah laku elite politik mereka yang gemar menjadikan isu kesulitan hidup
rakyat sehari-hari sebagai ajang untuk sekadar mewujudkan kepentingan politik
jangka pendek mereka.
Sumber: Jurnas.com, 30 Mar 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!