Meskipun kondisi fisiknya lemah Br John Paul
tetap optimis dan absen bicara kesehatannya. Ia lebih ingat tugasnya. Dalam
perjalanan kembali dari Surabaya, ia meminta ijin pimpinannya agar boleh terus
ke kampungnya di Puor, Lembata. Ia mau ikut membicarakan pembangunan fisik
Gereja St Petrus Puor, yang terhenti sejak sepuluh tahun lalu akibat ketiadaan
dana. Ijin dikabulkan. Dari Surabaya ia singgah Maumere dan terus kampung.
Begitu urusan selesai, ia kembali ke Ende. Perjalanan panjang Surabaya-Lembata
dan Lembata-Ende ternyata menguras tenaganya.
Setiba di biara, Br John Paul kelelahan. Setelah
beberapa hari istirahat, ia diantar ke Biara Simeon, Ledalero, Maumere untuk
dirawat. Melihat kondisi fisiknya yang memburuk, ia diantar ke Rumah Sakit St
Gabriel Kewapante, Maumere. Namun, ajal menjempunya pada Kamis, 8 Maret 2012
pagi sebelum matahari menyapa. Jenazahnya langsung dibawa ke Ende dan
keesokannya, tepat pukul 14.00 WITA dimakamkan di Pekuburan Biara Konradus Ende
dalam sebuah upacara Misa yang dihadiri pimpinan, konfrater, biarawan dan
biarawati serta anggota keluarga dan umat.
Lahir di Desa Puor, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, 1 April 1959, Br John Paul adalah anak petani kecil Lodovikus Swetir Lamak dan Agnes Abong Liman. Ia
anak kedua dari 11 bersaudara: 8 putera dan 3 puteri. Oleh karena kakaknya,
seorang perempuan, meninggal, ia dianggap sebagai anak pertama. Menyelesaikan
pendidikan di SDK Puor tahun 1972, Br John Paul masuk SMP St Pius X Lewoleba,
Lembata dan selesai tahun 1976. Ia kemudian sekolah di SMA Suryamandala,
Waiwerang, Adonara hingga selesai tahun 1980.
Benih panggilan hidup membiara tumbuh
sejak ia masih di kampung. Kala itu ia dekat dengan Pastor Johann Knoor, SVD
dan Sr Amaria SSpS serta Sr Dorotildis, SSpS. Misionaris Eropa itu bertugas di
Paroki St Joseph Boto. Namun, niatnya menjadi biarawan tak disetujui orangtua.
Setamat dari Suryamandala, ia meninggalkan Lembata dan berniat kuliah di IKIP
Negeri Malang. Namun, saat tiba jadwal pendaftaran sudah tutup. Ia memilih
kursus Bahasa Inggris selama beberapa bulan dan kembali ke Lembata. Saat tiba
di Lewoleba, ia tahu dermaga Lewoleba sedang dibangun. Ia melamar jadi buruh
kasar untuk bekerja pada proyek pembangunan dermaga itu. Tak lama berselang, ia
diminta mengajar di SMP Labalekan Puor hingga tahun 1985.
Masuk Biara
Melalui komunikasi dengan Pastor Eugene
Schmitz, SVD dan beberapa bruder muda yang ditempatkan di Dekanat Lembata,
keinginan Paul jadi seorang biarawan muncul lagi. Ia membicarakan niatnya
bersama kedua orang tuanya. Mendapat restu, ia melamar jadi bruder. Pada 28
Desember 1985, ia diterima dan masuk postulat di Biara St Konradus Ende. Ia
berhenti sebagai guru dan menuju Ende untuk memulai masa postulatnya di Biara
St Konradus pada Januari 1986. Masa novisiat dimulai 8 September 1986. Pada 8
September 1988 ia mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan untuk pertama kali.
Sesudah kaul pertama ia bekerja di Percetakan
Arnoldus Ende selama setahun. Tahun 1989 ia menjalankan Tahun Orientasi Profesi selama tiga tahun di Paroki St Klaus Wangkung, Ruteng. Selama TOP, ia
mengajar di SMP St Klaus dan juga memperhatikan asrama sekolah itu. Akhir 1993
ia kembali ke biara St Konradus untuk mempersiapkan diri Kaul Kekal. Pada 8
September 1994, ia mengikrarkan Kaul Kekal. Sesudah mendapat penempatan untuk
Provinsi SVD Ende, ia ditempatkan di Biara St Yoseph untuk bekerja pada
Sekretariat Provinsi SVD Ende.
Mempertimbangkan kebutuhan tenaga
pembina di Biara St Konradus, Br John Paul dipersiapkan menjadi pembina. Ia ditugaskan mengikuti Kursus Pembina Rohani
pada Institut Roncalli, Salatiga dari Januari hingga Juli 1996. Sekembali dari
Salatiga, Br John Paul dipindahkan dari Biara St Yoseph ke Biara St Konradus untuk
menjadi pembina. Di samping itu, tahun 1998 ia melanjutkan studi pada STIPAR
Atmareksa Ende dan selesai Oktober 2003.
Karena ada kekurangan tenaga di Biara St
Arnoldus Larantuka, Flores Timur, selesai studi di Atmareksa, pada 13 Desember
2003 ia ke Larantuka. Ia mengajar di STM Bina Karya sekaligus menjadi pembina
asrama. Untuk mendukung tugasnya, tahun 2005 ia mengikuti kursus spiritualitas
pendidikan nilai di Girisonta selama satu bulan.
Sesudah bertugas selama 5 tahun sebagai
guru dan pembina asrama STM Bina Karya awal tahun 2008 Br John Paul mengikuti Kursus
Pembaharuan Rohani di Nemi, Roma, Italia dari September hingga Desember 2008.
Sebelum ke Roma, sejak Februari hingga Agustus 2008 ia belajar bahasa Inggris
di Manila, Pilipina.
Awal Januari 2009, Br John Paul kembali ke
Biara St Arnoldus untuk meneruskan tugas-tugasnya sebagai guru dan pembina
asrama. Ternyata keinginannya itu tidak sejalan dengan rencana pimpinan
Provinsi SVD Ende yang pada waktu yang bersamaan mendapat permintaan dari Uskup
Agung Ende untuk mencari seorang bruder menangani asrama STP Ndona, Ende.
Karena sudah lima tahun bertugas di Biara St Arnoldus dan mempertimbangkan
pengalamannya sebagai pembina asrama, pimpinan berpendapat, Br John Paul bisa
ditarik dari Larantuka. Meski merasa berat, Br John Paul menerima tugas itu.
Karenanya, pada 11 Maret 2009 Br Paul dipindahkan dari Biara Arnoldus. Lewat
surat tertanggal 21 Maret 2009, Uskup Agung Ende menunjuknya sebagai pembina
asrama St Yosef Ndona.
Br John Paul pun beralih dari Biara St
Arnoldus ke Ende untuk mengemban tugas sebagai pembina asrama St Yosef Ndona.
Di sini ia bertugas selama hampir 3 tahun. Karena kondisi kesehatannya tidak
memungkinkan, atas permintaan Pimpinan Provinsi SVD Ende, 3 Pebruari 2012 Uskup
Agung Ende membebaskannya sebagai pembina asrama. Br John Paul dikenal sebagai
pribadi sederhana dan pendiam. Karena sifat dasarnya ini komunikasi dan kerja
sama dengan orang lain menjadi agak sulit pada permulaan. Namun jika sudah
terjalin komunikasi dan saling pengertian yang baik, ia bisa mendengar pendapat
orang lain dan berpegang pada kesepakatan bersama.
“Br John Paul itu setia dalam panggilan.
Ia orang yang rendah hati, ramah, sopan, semangat, dan pekerja keras. Dalam
berbagai pertemuan ia mengingatkan kami bahwa saat menghadapi tantangan atau
kesulitan, minta pertolongan Tuhan dan doa Bunda Maria,” ujar Sr Maria Sipriana
Botoor, PRR, bekas murid yang kini jadi Kepala SDK St Maria Immaculata Tabanan,
Bali.
Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat
Ledalero Pastor Ignas Ledot Kobun SVD punya kesan tersendiri. Menurutnya, Br John Paul menghayati kaul-kaul kebiaraan dengan tekun dalam citra diam dan tenang
sebagai bagian dari pembawaannya. “Dia tidak banyak menuntut, hidup sederhana,
dan tampil apa adanya. Dia juga seorang pendoa yang ulet. Tiga hal itulah yang
saya tahu dihidupi Bruder Paul,” kata Pastor Ignas, yang juga asal Puor. Di kalangan
rekan-rekannya, Br John Paul memiliki kepedulian dan rela membantu orang lain.
Sekarang ia sudah terbebas dari kecemasan, penderitaan jasmaniah dan boleh mengalami
kebahagiaan abadi. Selamat jalan, Om Bruder John Paul! Berdiamlah dengan damai di sisi-Nya.
Ansel Deri
Orang kampung asal kampung Boto, tetangga Puor, Lembata
Orang kampung asal kampung Boto, tetangga Puor, Lembata
Ket foto: Bruder John Paul SVD

Terima kasih sudah memuat figur sama saudara yang begitu dekat.
ReplyDeletePerjumpaan pertama saya dengan beliau terjadi pada hari kaul kekalnya di BBK Ende, sementara saya menjalani masa TOP di Syuradikara 1993/1994. Bersama anak-anak Asyur, kami menyanyikan lagu "quando saremo fora fora per la valsugana", (ketika kita keluar jauh dari Valsugana), lagu berbahasa Italia untuk Paul. Beliau begitu tersentuh.
Pada pertemuan kedua tahun 2001 di BBA Larantuka, beliau sempat minta saya menyanyikan lagu kenangan kaul kekalnya tadi. Yang sama beliau minta empat tahun lalu ketika kami berjumpa untuk ketiga kalinya di Roma. Paul punya kesan luar biasa terhadap lagu kenangan kaul kekal, kendati beliau tidak mengerti artinya.
Lagu di atas adalah nyanyian hati para perantau asal Italia di zaman dulu. Ketika berada jauh dari tanah air demi sesuap nasi, para perantau itu rindu untuk kembali melihat ibunda. Kerinduan itu begitu kuat sampai melahirkan lagu indah ini.
Bagi ama Paul, lagu yang sama mengingatkan hari terpenting, sumpah setianya untuk kekal dalam kebun anggur Tuhan. Lebih dari itu, saya yakin, melodi yang indah dari lagu ini, pernah membangkitkan dalam hatinya kerinduan tak terhingga untuk memandang wajah Allah-nya. Ama, semoga engkau beristirahat dalam damai, di dalam DIA! Amin.
Saya kenal almarhum ketika saya menjadi karyawan di Biara Bruder Konradus Ende (1996-1999). Bruder John Paul (sapaan akrabnya) sangat sederhana. Ketika beliau kuliah di Stipas, beliau mengandalkan Sepeda Ontel sebagai kendaraannya. Padahal sebagai Bruder berkaul kekal, beliau bisa saja mendapatkan fasilitas lebih. Bruder John Paul, selamat jalan saudaraku, mohon doamu untuk kami yang masih berziarah di dunia ini.
ReplyDelete