Oleh Asep Salahudin
Wakil Rektor IAILM Pesantren Suryalaya
Tasikmalaya;
Peneliti Lakpesdam PWNU Jawa Barat
DALAM konteks budaya
Sunda, terdapat banyak cerita rakyat yang menahbiskan perempuan sebagai sosok
mulia dan agung, serupa Dayang Sumbi dalam cerita Sangkuriang. Bahkan lebih
dari itu, kosmologi Sunda menautkan keperempuanan dengan dimensi transendensi
metafisis, seperti Sunan Ambu dan para pohacinya. Sebut juga yang lainnya,
semisal Sanghyang Sri Rumbiyang Jati, Nyi Mas Gandasari, Nyi Dewi Kembang
Samboja, Nyai Rambut Kasih, Purbasari, Ratna Suminar, dan Nyai Puun
Purnamasari.
Dalam nalar Sunda,
kiprah perempuan tidak hanya bergerak di seputar dunia pancatengah yang
mengurus persoalan-persoalan fisik-kebendaan, sumur, kasur, dan dapur. Namun
juga bertalian secara dialektis dengan buana niskala dan jati niskala yang
memiliki interaksi simbolis dengan kegaiban, pewahyuan, dan isyaratisyarat
langit yang bersifat visioner lainnya.
Itu menjadi satu
bukti tak terbantahkan ihwal budaya Sunda yang memosisikan perempuan dalam
harkat yang tinggi. Arkeolog Ayatrohaedi (2002) menjelaskan, “Di masyarakat
Sunda, baik yang tradisional maupun masyarakat masa silam, perempuan memiliki
kedudukan dan peran yang cukup penting.“
Terbitlah Terang
Dalam cerita rakyat
yang sering kali dihubungkan dengan sasakala Gunung Tangkuban Parahu itu,
bahkan diungkap bagaimana seorang Dayang Sum bi dapat mengalahkan Sangkuriang.
Baik Sangkuriang dalam makna harfiah sebagai pria sakti lalaki langit lalanang
jagat (anaknya sendiri), maupun dalam arti simbolis, yakni mampu memutuskan
seluruh jerat hasrat primitif berupa sifat pongah, tinggi hati, dan rasa
percaya diri yang terlampau berlebihan (sang kuring/ keakuan).
Watak-watak sang
kuring yang dikelola dengan saksama dan diubah menjadi energi positif kemudian
menyebabkan gelap hilang dan terbitlah terang. Cahaya terang yang dikibarkan
dengan boeh larang (serupa kain putih) dan ayam berkokok sesungguhnya
merupakan simpul terbitnya kesadaran baru, penanda terbenamnya kegelapan yang
telah diraih Dayang Sumbi.
Karena gelap habis
dan terang telah terbit, `perkawinan' dua anak manusia yang sangat tidak
diperkenankan agama dan budaya serta dilarang kepercayaan dan akal sehat itu
tidak pernah terjadi dalam alur kosmologi Sunda.
Perkawinan itu tentu
tidak harus dimaknai sebagai ijab kabul tanda sahnya hubungan dua jenis kelamin
yang berbeda, tetapi bisa juga kita takwilkan sebagai perkawinan kosmis yang
apabila berlangsung dapat menyubordinasikan dunia perempuan. Perkawinan yang
dapat membuat marwah perempuan runtuh.
Inilah yang dulu
dengan sangat bagus diangkat filsuf H Hasan Mustapa dalam sebuah guguritan-nya,
Jangkarna jadi walagri/Waluya kasampurnaan/Kapireng bawatna bohong/Disulukan
disindiran/Bukaeun di pawekasan/Mungguh pasulukan Bandung/Kacarita Sangkuriang.
`Haluan menjadi waras/Kesantunan kesempurnaan/Tampak kabar
kedustaan/Dipanggil ke jalan rohani diingatkan lewat kiasan/Untuk dibuka di
ujung kabar/Sungguh suluk Bandung/Syahdan kabar Sangkuriang'.
Dapat kita bayangkan,
seandainya terang tidak terbit dan Sangkuriang jadi menikahi Dayang Sumbi,
tentu, sekali lagi, itu menjadi lambang status perempuan Sunda menjadi tidak
berbeda dengan masa jahiliah prakenabian. Jahiliah bukan hanya tidak menghargai
perempuan. Bahkan kehadir an nya pun sangat tidak diinginkan, yang terbukti
dengan dibunuhnya bayi-bayi berjenis kelamin perempuan. Itu tampak dalam syair
purba yang ditulis Tarafah, Antarah, Labid, Amru ibn Kulsum, Umrul Qais,
Nabighah, Zuhair, Al-Haris ibn Hilza, dan Abidul Abros.
Dayang Sumbi dalam
faktanya sangat tidak terpikat sedikit pun oleh fantasi kebendaan yang
ditawarkan: berlayar di danau. Tawaran itu hakikinya merupakan siasat negasi
dari ketidaksetujuan--tetapi tidak diungkapkan dalam bahasa verbal--dari
kemustahilan yang tidak mungkin diwujudkan, bahwa dalam semalam Sangkuriang
dapat membuat perahu dan membendung danau.
Bandingkan dengan
realitas perempuan hari ini, yang justru memburu kemegahan yang bersifat benda,
lebih senang mempertontonkan tubuhnya, seperti ditulis dengan baik oleh Liesbet
van Zoonen dalam Feminist Media Studies (1994) atau juga dalam Sexuality
for Sale-nya Janice Winship. Jean Baudrillard, pemikir post-strukturalis,
meneguhkan bahwa hari ini haluan kebenaran perempuan (dan laki-laki) lebih
diacukan kepada spirit mendewakan `tubuh'.
Hukum Alam
Dayang Sumbi paham
betul ihwal horizon keterbatasan yang dimiliki Sangkuriang (dan
eksistensialisme sang kuring). Justru kesadaran itu yang kemudian
mengantarkannya kepada keyakinan yang bulat dan iman futuristis bahwa segala
sesuatu haruslah berjalan selaras dengan hukum alam, tidak mungkin danau dan
perahu dibuat semalaman walaupun yang membuatnya telah mencurahkan seluruh
kekuatan dan bermodalkan cinta yang sempurna.
Alam telah memiliki
hukumnya sendiri, Tuhan punya rencana yang sangat indah untuk membangun relasi
yang harmonis antara makhluk-Nya tanpa dibedakan oleh jenis kelamin. Kemuliaan
itu dalam teologi tidak dijangkarkan kepada gender , tapi kepada kerja nyata
dan akhlak mulia.
Kalau kita renungkan,
risalah kenabian secara substantif ada lah pesan pembebasan (liberasi),
perubahan (transformasi), dan pencerahan (iluminasi). Dalam konteks ajaran
Islam, misalnya, bagaimana posisi kaum hawa disetarakan dengan kaum adam yang
memiliki hak dan kewajiban sama di hadapan Tuhan. Diskriminasi atas hubungan
gender adalah pelanggaran hak asasi manusia.
Semangat teologis
seperti itulah sebenarnya yang digemakan Dayang Sumbi. Secara historis, itu
disuarakan Raden Ajeng Kartini yang baru lahir 21 April 1879 di Kota Jepara,
Jawa Tengah. Juga oleh Raden Ayu Lasminingrat dan Dewi Sartika. Bedanya, Dayang
Sumbi dirumuskan dalam daya ungkap mistis-metaforis sehingga memungkinkan untuk
ditafsirkan secara kreatif dan dikontekstualisasikan maknanya dengan semangat
zaman hari ini.
Mitos sebagai alegori
dari proses-proses fisik. Malinowski menggambarkan mitos yang ada di sebuah
masyarakat bukan hanya suatu cerita lisan, apalagi dongeng tak berfaedah,
melainkan suatu fakta dan kekuatan yang hidup.
Justru di sinilah
kelebihan model riwayat Dayang Sumbi. Hikayat mistis-mitologis kekuatannya
menantang kita untuk menumbuhkan penafsiran emansipatif. Penafsiran yang bisa
menggerakkan relasi perempuan dan laki-laki dalam hubungan yang egaliter.
Sumber: Media Indonesia, 21 April 2012

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!