
Ratusan umat Paroki St Joseph Boto, Lembata, Keuskupan
Larantuka, Nusa Tenggara Timur, mengadakan Jalan Salib di stasi Boto,
Jumat (6/4 2012). Jalan Salib mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus untuk
menebus dosa umat manusia dilakukan dengan mengelilingi empat belas perhentian
di tiga kampung yaitu Kluang, Belabaja, dan Boto.
Jalan Salib diikuti umat
wilayah satu yang meliputi stasi St Antonius Liwulagang, St Petrus Atawai, dan St
Joseph Boto. Selain Boto, dua stasi lainnya di wilayah tersebut berada 3-5 kilo
meter dari pusat paroki.
Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat
Paroki Boto Gabriel Buka mengemukakan, selain umat wilayah satu, Jalan Salib
diikuti sebelas Kelompok Basis Gerejani, OMK, dan Serikat Gerejani seperti St
Ana, Legio Maria serta Gerakan Imam Maria di lingkungan wilayah satu.
Menurut Gabriel, Jalan Salib dimulai
dengan doa pembukaan yang dipimpin Ketua Seksi Liturgi DPP Paroki Boto
Laurensius Leuweheq di gereja pada pukul 10.00 WITA.
Usai doa, umat secara tertib
mengikuti rute yang dimulai dari kampung Boto, Desa Labalimut dan selanjutnya
ke Belabaja dan Kluang, Desa Belabaja, sebelum berakhir di gereja. Di setiap
stasi, rombongan akan diterima KBG, OMK, dan Serikat Gerejani yang sudah diberi
tugas.
Blasius Bao de Ona, umat Stasi
St Theresia Loang, Paroki Ratu Damai Mingar, Lembata, mengaku, prosesi Jalan
Salib di lereng Gunung Labalekan itu khusuk dan melegakan hati.
“Jalan Salib kali ini khusuk
dan kita masuk dalam suasana meditatif dan ikut merasakan serta menghayati
penderitaan Yesus Kristus akibat dosa manusia,” kata Blasius, pegawai kantor Kecamatan
Nagawutun.
Pastor Lukas Lile Masan, Pr
menghargai keterlibatan umat menyukseskan keseluruhan rangkaian kegiatan mulai
Kamis Putih hingga Minggu Paskah. Begitu juga dengan prosesi Jalan Salib
mengelilingi ketiga kampung. Melalui Jalan Salib, umat menyadari makna penderitaan
Yesus hingga mencapai Puncak Kalvari.
“Jalan Salib menunjukkan Yesus mencintai
manusia. Peristiwa jatuh-bangun, diolok-olok, dan dihina, tak membuat Yesus menyerah.
Semua diselesaikan demi kasih-Nya kepada Bapa dan manusia,” kata Pastor Lukas.
Gregorius Sinun Liman, umat
stasi Liwulagang merasa senang karena Jalan Salib mengelilingi kampung merupakan
agenda rutin. Kegiatan ini menyatukan umat di tengah kesibukan sebagai petani.
“Sejak Kamis Putih, kami sudah
hadir di Boto. Selain mengikuti kegiatan-kegiatan rohani menjelang Paskah, kami
juga terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti bakti sosial dan
olahraga,” kata Goris.
Menurutnya, penderitaan Kristus
melalui Jalan Salib menuntut umat berefleksi. Bahwa Tuhan mendesain manusia tak
sekadar untuk hidup tenang-tenang tetapi juga dituntut menghadapi tantangan
sehingga pada gilirannya kita menjadi pribadi yang tangguh dan kuat. Hal ini
sejalan dengan tema: Dalam terang kebangkitan Kristus kita wujudkan pendidikan nilai.
“Di sekitar kita masih banyak
orang yang lapar, sakit, jadi korban persaingan, difitnah bahkan diejek. Melihat
realitas itu apakah kita berani membantu atau malah takut diejek? Nilai-nilai
ini yang disampaikan Yesus melalui Jalab Salib. Ya, sebagai umat kita dituntut
untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan bantuan kita,” lanjut Goris yang
juga kepala desa Ile Boli.
Jalan Salib berakhir pukul
12.15. Jalan Salib di Paroki Boto merupakan kegiatan rutin. Stasi-stasi di
paroki ini berjauhan. Stasi di wilayah tiga meliputi Bata dan Labanobol (Desa
Bolibean), Lamalewar (Desa Ile Boli), Kecamatan Nagawutun, dan Belang (Desa
Watokobu), Kecamatan Nubatukan.
Sedangkan stasi di wilayah dua
meliputi Puor (Desa Puor A dan B), Posiwatu (Desa Posiwatu) dan Imulolong (Desa
Imulolong), Kecamatan Wulandoni. Saat ini sebanyak sepuluh stasi berada di wilayah
Paroki Boto. Stasi Watuwara, yang sebelumnya masuk Paroki Boto, bergabung
dengan Paroki Wulandoni, pemekaran dari Paroki St Petrus-Paulus Lamalera, Kecamatan Wulandoni.
Ansel
Deri
Ket foto:
Jalan Salib keliling kampung di stasi Boto, Lembata, Keuskupan Larantuka, Jumat,
6/4.
Foto: Achie
Galot
0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!