Bola panas terus saja bergulir “menghantam
tahta” Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur. Belum reda isu tentang dugaan
keterlibatan Bupati sebagai donatur dalam drama pembunuhan berencana terhadap
korban Lorens Wadu, kini datang lagi hentakan isu baru terkait penyelundupan
bahan tambang mineral logam asal Kabupaten Lembata ke Jakarta.
Berkali-kali isu ini telah diklarifikasi.
Tidak saja melalui media masa, dalam apel peringatan HUT RI ke 46 pun Bupati
sempat menyampaikan klarifikasinya. Terkait kabar penyelundupan pasir emas yang
dibawa oleh Amran Sarabiti alias Laode, dalam jumpa pers di ruang kerja Bupati
Lembata, Bupati Eliaser Yentji Sunur tegas membantah.
Menurutnya, pasir yang diduga mengandung emas
yang kini disita Polres Tangerang, bukan berasal dari Lembata. Pasir yang
dibawa La Ode, adalah pasir yang dibeli dari daerah Dadap, Kabupaten Tangerang, katanya.
Bupati Yentji bahkan balik menuding, jika ada
oknum tertentu yang mencoba merusak nama baiknya sebagai Bupati Lembata, dengan
meminta La Ode menyebut nama Bupati Lembata sebagai dalang dari penyelundupan
itu.
“Kamu, tahu dari mana kalau pasir itu dari
Lembata? Kamu sudah lihat pasir itu? Itu hanya isu, saya sudah tahu, ada orang
yang paksa La Ode untuk sebut nama Bupati Lembata, jadi tidak benar kalau pasir
itu dibawa dari Lembata,” ujarnya.
Klarifikasi Bupati Yentji ini, tidak membuat
hempasan isu panas mereda, banyak kalangan yakin, bila bahan tambang itu
berasal dari Lembata, dan penyelundupan itu dibeking orang kuat Lembata. Keyakinan
ini, semakin menguat ketika media berhasil membuka tabir. Istri muda La Ode
alias Amran Sarabiti, buka mulut dan mengaku siap bersaksi jika dipanggil pihak
kepolisian.
Agustina Inang, kepada media beberapa waktu
lalu di Lewoleba menuturkan, dirinya ikut mengantar pasir sejumlah 400 karung
ke Jakarta. Inang kepada media, berulang kali menyebut nama salah satu anggota
DPRD Lembata, sebagai orang yang ditemuinya selama proses pengangkutan hingga
pengujian kandungan emas dalam pasir.
“Setelah dua hari kami di Larantuka, baru
bapak Haji Abdulrahman bertemu kami. Saat itu dia kasih uang ke suami saya,
katanya untuk biaya perjalanan ke Jakarta,” kata Agustina.
Kala itu perempuan muda 15 tahun ini mengaku,
dirinya tak mengetahui secara persis proses pengangkutan pasir dari Lembata ke
Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Dia hanya mengetahui, jika di pasir yang
disimpan dalam wadah karung semen, buatan salah satu pabrik semen di Sulawesi
itu, siap diantar pulau dengan menggunakan truk kontainer.
“Kami menumpang truk bermuatan pasir menuju
Maumere, untuk selanjutnya berlayar ke Surabaya dengan Kapal Ferry, dan
melanjutkan perjalanan ke Jakarta,” tutur ibu muda ini.
Dia mengatakan, semua barang bawaan berupa
pasir sejumlah 400 karung itu, diturunkan di rumah salah satu sahabat suaminya,
di daerah Tangerang, di rumah Bung Heru, demikian Inaq menyebut nama teman
suaminya itu, semua proses pengujian dilakukan.
Proses pengujian dimaksud, adalah pengujian
manual dengan cara mengayak kemudian membakar. Pada saat proses pengujian
inilah, terjadi kebakaran hingga mencedrai kedua tangan Heru.
Akibat kecelakaan ini Heru lalu dirawat di Rumah Sakit Aminah,
Tangerang. Seluruh biaya perawatan dan pengobatan, ditanggung Abdul Rahman,
oknum anggota DPRD Lembata.
Abdul Rahman, tidak saja menanggung seluruh
biaya pengobatan, semua kebutuhan hidup Agustina dan sumainya selama di Jakarta
ditanggung sang anggota DPRD Lembata asal Kedang ini.
“Dia juga minta supaya saya rahasiakan,
katanya ini untuk Leu Auq (kampung halaman, kedang-Red),” kenang Agustina.
Lantas apakah ada pejabat lain selain Abdul Rahman? “Selama 7 bulan saya
mendampingi suami, saya tidak pernah lihat ada orang lain yang datang ke sana,
saya hanya lihat Adul Rahman dan istrinya,”
ujarnya.
Dituturkanya bahwa, awal kehidupan bersama
suami di Jakarta berjalan normal, namun belakangan dirinya sering mendapat
penyiksaan fisik dan psikis. Karena tak tahan mendapat perlakuan kasar inilah,
dia lalu memilih untuk pulang. Agustina yang tengah hamil enam bulan ini, mengaku
sudah tak mau lagi hidup berumah tangga dengan sang suami.
Pasir itu Benar dari Lembata
Ceritera Agustina, hanya bermula dari
Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Agustina sendiri mengaku tak tahu menahu
terkait proses pengangkutan bahan tambang ini dari daerah asal. Penelurusan
kemudian berlanjut, untuk menggali kebenaran informasi terkait daerah asal
pasir yang disebut-sebut mengandung emas murni ini.
“Pasir itu asalnya dari Roho, Kecamatan
Buyasuri. Saya sudah ke sana lihat tempatnya, bahkan sempat ambil sampelnya dan
bertemu dengan pemilik lokasi. Menurut pemilik lokasi, pasir itu dibeli La Ode
untuk pembuatan rumah, dia (pemilik pasir) bahkan tidak tahu kalau pasir yang
selama ini dijualnya mengandung emas,” ujar Aloysius Urbanus Uri Murin.
Pernyataan Urbanus Uri Murin ini, dibernarkan
juga oleh dua orang supir truk. Mereka mengaku dibayar La Ode untuk mengangkut
pasir dari desa Roho, Buyasuri menuju Desa Pada, Kecamatan Nubatukan.
“Kami turunkan di salah satu rumah di Pada,
dekat lapangan bola kaki,” kata salah satu supir dump truk, sambil meminta
namanya tidak dipublikasi. Selanjutnya, terkait proses pengepakan hingga pengantar
pulauan para supir ini mengaku tak mengetahui.
“Kami dibayar untuk muat pasir dan turunkan
di Pada. Katanya waktu itu untuk bangun rumah, soal lain kami tidak tahu,” ujar
supir lainnya.
Penegak Hukum
Dugaan penyelundupan pasir emas Lembata ke
Jakarta diduga dilakukan Amran Sarabiti alias Laode. Kasus yang awalnya
ditangani oleh Mabes Polri, ternyata kini sebagian kasusnya dilimpahkan
penanganannya ke Polresta Tangerang. Mabes Polri lebih memilih menangani dugaan
ilegal maining.
Perkembangan terakhir sesuai konfirmasi FBC dengan Forum Pemuda Penggerak
Keadilan dan Perdamaian (Formadda) Nusa Tenggara Timur (NTT), Polresta Tangerang
sudah mengajukan permohonan pengujian kadar emas yang diduga berasal dari
Lembata itu ke PT. Sucofindo.
Sementara La Ode alias Amran Sarabiti telah
diperiksa di Polsek Pondok Aren, begitupun dengan barang bukti berupa ratusan
karung pasir, semuanya telah disita Polresta Tengerang.
Ketua Formadda Pastor Kristo Tara, OFM kepada
floresbangkit beberapa waktu lalu
melalui kontak telepon menuturkan, sebagaimana dalam Berita Acara Pemeriksaan
(BAP) La Ode mengaku pasir itu diambil dari pantai Dadap Tangerang, dan akan
dimanfaatkan untuk membangun rumah seorang sahabatnya bernama Gunawan.
“Pengakuan La Ode sebagaimana termuat dalam
BAP, pasir itu dititip di rumah Heru, sahabat La Ode lainnya,” jelas Ketua
Formadda.
Keterangan La Ode itu dibantah Formadda.
Menurut Kristo, Formadda telah melakukan investigasi hingga ke pantai Dadap
Tanggerang, di mana masyarakat Pantai Dadap tidak menjual pasir, seperti dalam
pengakuan La Ode kepada penyidik.
“Tetapi kita semua menunggu proses hukumnya.
Kasusnya sudah dilimpahkan ke Polresta Tangerang. Saat ini sedang diproses.
Sedangkan Bareskrim Polri untuk Tindak Pidana Pertambangan,” kata Pater Kristo.
Staf Justice, Peace and Integration of
Creation (JPIC) Ordo Fransiskan (OFM) dan kini sebagai ketua Formadda ini
mengungkap, Formadda NTT melaporkan kasus itu ke Mabes Polri bagian Tindak
Pidana Pertambangan per 31 Juli 2013. Karena ini kategori mafia pertambangan
ilegal, diangkut tanpa ijin dan dieksploitasi tanpa ijin.
Lebih jauh mengenai pasir yang diduga
mengandung emas itu, menurut Kristo, OFM berwarna keabuan bercampur bintik
kuning mengkilat, dan tersimpan dalam karung semen berukuran 40 kilo gram, merk
semen yang terulis pada karung, menurut Kristo, imam katolik asal Manggarai
ini, tidak beredar di Jakata.
Kesaksian Ketua Formadda ini, sama dengan
kesaksian Agustina Inang, Inang sebagaimana telah disampaikan pada bagian
terdahulu menuturkan, pasir-pasir itu tersimpan dalam karung semen buatan
pabrik semen di Sulawesi.
Begitupun pasir, warna dan campuran pasir
sama persis dengan sampel yang dilihat FBC
di rumah Aloysius Urbanus Uri Murin. Namun demikian, terkait informasi dugaan
penyelundupan dan ilegal mining ini, belum ada keterangan resmi baik dari
pemerintah maupun pihak Polres Lembata, terkait sikap dan proses penyelidikan.
(Yogi Making)
Sumber: floresbangkit.com, 4 Oktober 2013.
Ket foto: Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur

0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!