Aksi itu terjadi ketika polisi tidak meluluskan permintaan warga untuk bertemu Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur yang sedang melakukan kunjungan dinas ke desa Amakaka (Lewotolok) kecamatan Ile Ape.
Sebelumnya, warga mendapat informasi bahwa Bupati Lembata dan rombongan akan melakukan kunjungan dinas ke desa Amakaka (Lewotolok) kecamatan Ile Ape. Warga yang merupakan penduduk dari desa-desa di wilayah ulayat Lewohala, spontan datang ke Waiara untuk menunggu Bupati.
Informasi yang berhasil dihimpun dari beberapa warga mengatakan, sekitar pukul 9.00 pagi warga mulai berkumpul di Waiara. Menurut mereka, lubang tempat bocah Petrus Alfons Sita tenggelam yang belum ditimbun itu merupakan kesengajaan pemerintah untuk terus membuat warga tersiksa dalam trauma dan duka, serta menimbulkan ketakutan akan jatuhnya korban lain.
Karena itulah, mereka bermaksud meminta Bupati Lembata untuk turun dan menjelaskan kepada warga terkait proyek motor kros yang memakan korban jiwa, serta menuntut janji Bupati untuk menimbun kembali lubang dan meratakan onggokan tanah di areal proyek itu. Aksi warga itu, mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian.
Niat warga ternyata tak diluluskan aparat polisi. Sekitar pukul 11.30 atau saat iringan rombongan bupati yang menggunakan kendaraan dinas itu melintas, warga yang sejak pagi sudah berjaga-jaga maju memblokade jalan dengan maksud agar Bupati turun menemui warga.
Sayang, blokade warga itu dibongkar paksa polisi. Warga akhirnya marah karena sebelumnya, dalam negoisasi dengan camat Ile Ape Mus Kalu dan Sekertaris Camat Petrus Demong, disepakati Bupati turun menemui warga untuk menjelaskan sekaligus melihat lubang tempat bocah Petrus Alfons Sita tenggelam.
Puluhan aparat yang sejak pagi sudah melakukan pengawalan dengan kasar mendorong warga untuk membuka blokade. Mendapat perlakuan kasar itulah memantik emosi dan membuat warga bringas. Aksi saling dorong disertai umpatan kasar tak terelakan. Beberapa warga bahkan nekat maju menabrakan diri ke kendaraan dinas yang melintas. Akibat saling dorong, juga menyebabkan beberapa warga tersenggol mobil dinas dan terpental keluar jalan.
Tak peduli dengan desakan, polisi terus mendorong paksa warga untuk membuka blokade. floresbangkit.com sempat didorong berulang kali ketika memaksa maju untuk menggambil gambar. “Mundur semua, mundur, mundur,” teriak polisi.
Romo Noldy, Pr dan beberapa aktifis kemanusiaan yang sempat datang pun terlihat kewalahan menenangkan warga. Saat kendaraan dinas itu berhasil melintas, warga berbalik menyerang polisi. Mereka menilai polisi mengingkari kesepakatan. Suasana kembali menegang kala polisi tersinggung dan balik menyerang warga. Beruntung Romo Noldy dan beberapa aktivis kemanusiaan cepat turun tangan untuk menahan warga.
“Saya minta semua tenang dulu, kalau kamu anggap bahwa saya adalah gembala kalian, saya mohon supaya kamu tenang dan dengarkan saya. Saya mengerti kamu kecewa karena Bupati bahkan polisi tidak mau buka ruang supaya Bupati bertemu dengan warga, tetapi saudara-saudara tidak boleh terpancing emosi apalagi sampai anarkis, masalah hanya bisa diselesaikan dengan hati yang dingin, dan dengan pikiran yang tenang. Saya minta semua kita tenang, dan pulang ke kampung, dan jangan buat keributan disini,” ujar Romo Noldi di tengah keributan masa.
Camat Ile Ape: Warga Jangan Tahan Bupati
Camat Ile Ape Mus Kalu didampingi Sekertaris Camat Petrus Demong, sebelumnya datang bernegosiasi dengan warga. Dia meminta agar warga tidak memblokade jalan, dan berjanji untuk mempertemukan warga dengan Bupati, setelah kunjungan ke desa Amakaka.
“Saya minta kita jangan halangi perjalanan Bupati. Saya janji setelah kunjungan ke Lewotolok, saya akan minta pak Bupati untuk datang bertemu warga disini. Tolong pikirkan juga dengan posisi saya, jangan sampai nanti saya dibilang gagal,” ujar camat.
Permintaan camat yang baru saja dilantik bulan Februari 2013 itu ditolak warga. Menurut mereka, lubang yang terus dibiarkan menganga itu merupakan pembiaran dari pemerintah selaku pemilik proyek.
Puluhan aparat yang sejak pagi sudah melakukan pengawalan dengan kasar mendorong warga untuk membuka blokade. Mendapat perlakuan kasar itulah memantik emosi dan membuat warga bringas. Aksi saling dorong disertai umpatan kasar tak terelakan. Beberapa warga bahkan nekat maju menabrakan diri ke kendaraan dinas yang melintas. Akibat saling dorong, juga menyebabkan beberapa warga tersenggol mobil dinas dan terpental keluar jalan.
Tak peduli dengan desakan, polisi terus mendorong paksa warga untuk membuka blokade. floresbangkit.com sempat didorong berulang kali ketika memaksa maju untuk menggambil gambar. “Mundur semua, mundur, mundur,” teriak polisi.
Romo Noldy, Pr dan beberapa aktifis kemanusiaan yang sempat datang pun terlihat kewalahan menenangkan warga. Saat kendaraan dinas itu berhasil melintas, warga berbalik menyerang polisi. Mereka menilai polisi mengingkari kesepakatan. Suasana kembali menegang kala polisi tersinggung dan balik menyerang warga. Beruntung Romo Noldy dan beberapa aktivis kemanusiaan cepat turun tangan untuk menahan warga.
“Saya minta semua tenang dulu, kalau kamu anggap bahwa saya adalah gembala kalian, saya mohon supaya kamu tenang dan dengarkan saya. Saya mengerti kamu kecewa karena Bupati bahkan polisi tidak mau buka ruang supaya Bupati bertemu dengan warga, tetapi saudara-saudara tidak boleh terpancing emosi apalagi sampai anarkis, masalah hanya bisa diselesaikan dengan hati yang dingin, dan dengan pikiran yang tenang. Saya minta semua kita tenang, dan pulang ke kampung, dan jangan buat keributan disini,” ujar Romo Noldi di tengah keributan masa.
Camat Ile Ape: Warga Jangan Tahan Bupati
Camat Ile Ape Mus Kalu didampingi Sekertaris Camat Petrus Demong, sebelumnya datang bernegosiasi dengan warga. Dia meminta agar warga tidak memblokade jalan, dan berjanji untuk mempertemukan warga dengan Bupati, setelah kunjungan ke desa Amakaka.
“Saya minta kita jangan halangi perjalanan Bupati. Saya janji setelah kunjungan ke Lewotolok, saya akan minta pak Bupati untuk datang bertemu warga disini. Tolong pikirkan juga dengan posisi saya, jangan sampai nanti saya dibilang gagal,” ujar camat.
Permintaan camat yang baru saja dilantik bulan Februari 2013 itu ditolak warga. Menurut mereka, lubang yang terus dibiarkan menganga itu merupakan pembiaran dari pemerintah selaku pemilik proyek.
“Kami tidak mau dengar camat, kami mau dengar Bupati. Masalah ini sudah lama sekali, tetapi Bupati masa bodoh saja. Saya mau tanya pak camat, kalau ada korban lagi camat mau tanggungjawab? Kami tidak halangi Bupati, itu supaya camat tahu, kami kami hanya minta supaya Bupati singgah, jadi saya minta supaya jangan belokan tujuan,” ujar Lazarus Lewa, warga desa Muruona.
Camat akhirnya mengalah, dan setelah berkomunikasi dengan pemerintah Kabupaten, Camat Ile Ape kemudian meluluskan permintaan warga. Sayang, kesepakatan itu ditolak polisi, hingga membuat warga marah.
Camat akhirnya mengalah, dan setelah berkomunikasi dengan pemerintah Kabupaten, Camat Ile Ape kemudian meluluskan permintaan warga. Sayang, kesepakatan itu ditolak polisi, hingga membuat warga marah.
Sumber: floresbangkit.com, 5 Maret 2014
Ket foto: Aksi saling dorong polisi dan warga Lewohala di Waiara Desa Muruona.
Ket foto: Aksi saling dorong polisi dan warga Lewohala di Waiara Desa Muruona.
0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!