Headlines News :
Home » , » 50 Tahun Kompas: Terus Berseru di Tengah Kebisingan

50 Tahun Kompas: Terus Berseru di Tengah Kebisingan

Written By Ansel Deri on Monday, June 29, 2015 | 5:11 PM

Oleh Jokob Oetama 
Perintis & Pendiri Kompas

PADA hari ulang tahun setengah abad harian ini, selain rasa syukur juga terima kasih kepada berbagai pihak, secara khusus kepada Saudara PK Ojong almarhum -rekan perintis dan pendiri Kompas- juga kesempatan melakukan introspeksi khusus. Seberapa jauh Kompas teguh menghidupi panji-panji pengabdian Amanat Hati Nurani Rakyat?

Kompas didasarkan atas kondisi kemajemukan Indonesia, manifestasi Indonesia. Indonesia Mini. Semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika, satu dalam keanekaan. Indonesia yang majemuk, tidak dalam arti masing-masing bagian serba soliter, melainkan komplementer, saling memperkaya dan merekat. Kompas sesuai dengan namanya "penunjuk arah", fotokopi kemajemukan Indonesia, terus berusaha ikut memberi kontribusi dalam pengembangan negara dan bangsa Indonesia. Kompas merajut Nusantara.

Kompas yang sejak awal dilandasi sikap humanisme transendental, percaya akan peranan Ilahi dalam kehidupan dan karya manusia yang berkehendak bebas, di bawah payung Pancasila sebagai batu sendi sekaligus batu penjuru, tidak bisa tidak terlibat dalam jatuh-bangun kehidupan negara dan bangsa Indonesia, Indonesia merdeka yang hampir berusia 70 tahun.

Saksi sekaligus pelaku

Sebagai bagian integral masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia, Kompas berada dalam peristiwa besar, menengah, dan kecil sejarah bangsa-negara Indonesia. Selama 1965-2015, prinsip utama komunikasi saling memberi dan menerima berlangsung serentak. Kompas memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat Indonesia, begitu juga sebaliknya.

Setelah ditutup pada 20 Januari 1978-5 Februari 1978, memilih, memilah, dan memberi makna jadi pekerjaan yang tidak lagi sederhana, pun dengan penyangga politics of values sebagai sikap dan pandangan. Pilihan perlu disertai pertimbangan akal sehat, kepekaan, dan komitmen. Untuk berbagai persoalan dan peristiwa tertentu yang supersensitif, dalam melakukan pekerjaan jurnalistik, mengutip kata-kata filsuf Soren Kierkegaard, perlu dilakukan dalam keadaan in fear and tremblingin anguish (dalam rasa takut dan cemas).

Industri media sebagai usaha idealisme sekaligus bisnis yang masuk akal dibayangi rasa takut dan cemas -pada era 1978-1998- tampak menonjol, terus coba diurai dengan segala cara. Ketakutan sewaktu-waktu ditutup semasa pemerintahan Orde Baru, bagi media, termasuk Kompas, merupakan adrenalin senantiasa cerdas-cerah menemukan katup pelepas. Kecemasan menjadi bagian dari vitalitas, dan kreativitas, berlangsung sampai tumbangnya pemerintahan represif Soeharto lewat Reformasi 1998.

Peristiwa-peristiwa besar lain yang menggerus hak asasi manusia, termasuk peristiwa-peristiwa dunia, seperti terorisme, globalisasi, konflik, termasuk musibah yang silih berganti menimpa di dalam negeri maupun di berbagai belahan dunia, tidak terlewat dari amatan Kompas. Tidak kalah penting lewat liputan, tulisan, dan tajuknya Kompas berkontribusi Indonesia terbebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan.

Rumusan klasik media sebagai watch dogtidak bisa disampaikan secara hitam-putih. Representasinya perlu disertai sikap tenggang rasa dan tahu diri. Critics with understanding, yang terjemahannya kadang tegas, kadang terkesan miyar-miyur, menunjukkan kearifan mengambil posisi sebagai guru yang tidak memaksakan, tetapi menawarkan. Kompas berada di tengah dengan ngono yo ngono, ning apike ngene bae (begitu ya begitu, tetapi sebaiknya begini), termasuk dalam hal membedakan dependensi dan independensinya.

Pengalaman Kompas yang lahir tiga setengah bulan sebelum peristiwa 1965 berkembang dalam represi Orde Baru, bersamaan dengan perubahan besar dunia industri media di Indonesia. Perubahan tersebut terjadi sebagai hasil interaksinya dengan ideologi, politik, dan ekonomi Orde Baru. Perubahan besar pasca Reformasi 1998 tidak membuat Kompas berubah menjadi radikal dan drastis. Perubahan demi perubahan dihidupi secara ugahari, tetap santun dan tahu diri, bukan euforia, dan tidak meledak-ledak.

Hadir dan semakin gencarnya pengaruh media noncetak, belakangan blogger, disikapi bukan sebagai pesaing, tetapi teman (socius), seiring dan seperjalanan. Apalagi kini semua orang bisa menjadi wartawan dengan memiliki blog yang potensial menimbulkan masalah verifikasi benar-tidaknya, santun-tidaknya, dan layak-tidaknya.

Persaingan semakin sengit

Posisi Kompas, di tengah kebisingan-semua orang menyampaikan informasi kepada publik, media pun ibarat pasar serba ada. Dunia informasi menjadi riuh dan bising, termasuk oleh kejadian dan informasi yang berseliweran liar. Dalam kondisi demikian, Kompas terus mengantisipasi, menyeimbangkan jati dirinya secara cerdas sebagai lembaga ideal sekaligus bisnis.

Visi dan komitmen Kompas tetap, tetapi diaktualisasikan dan disampaikan lebih relevan dengan perkembangan zaman. Begitu juga dalam menerjemahkan panji-panji Amanat Hati Nurani Rakyat. Berlakulah seruan filsuf-kaisar Romawi kuno, Cicero, Otempora o mores, bahwa dalam tiap zaman berlaku kebiasaan dan tabiat yang berbeda-beda. Begitu juga roh kemanusiaan yang beriman (humanisme transendental), dalam hal prinsip-prinsipnya tetap, tetapi dalam hal aktualisasi, pengayaan dan perwujudannya perlu terus didialogkan dengan perkembangan zaman.

Senyampang prasyarat ideal media yang terus-menerus menggoyang-goyangkan diri, sejalan kedalaman dan pesan yang ingin disampaikan-"kemewahan" yang lebih dimiliki media cetak-Kompas terus menggugat. Mengenal Tanah Air, salah satu topik yang diluncurkan sejak lima tahun terakhir sebagai contoh, disampaikan dalam berbagai liputan. Dijadikan kerja bersama seluruh media,mainstream maupun nonmainstream. Tidak hanya dalam media cetak, tetapi juga elektronik, digital, buku cetak, maupun e-book.

Peranan unit lembaga Litbang Kompas menjadi keniscayaan, begitu juga unit-unit pendukung lain, seperti unit Teknologi Informasi dan unit Sumber Daya Manusia, bersama-sama menopang program kerja bareng Redaksi dan Bisnis. Media noncetak dikembangkan untuk memperkuat cetak.

Dalam 50 tahun ke depan, tantangan industri media cetak semakin besar. Persaingan antarindustri media semakin sengit. Selain oleh hadirnya media non mainstream, juga berbagai persoalan yang meliar, direcoki komentar dan cenderung memperkeruh persoalan, yang tidak menyelesaikan masalah, tetapi menimbulkan masalah baru. Lingkungan yang dihadapi adalah lingkungan serba bising. Kompas yang berseru di tengah kebisingan berusaha terus jadi suar.

Introspeksi dan tindak lanjut pasca 50 tahun usia Kompas, selain ucapan syukur, juga terima kasih atas kerja sama dan sumbangan berbagai pihak, seperti pembaca, pemasang iklan, kontributor artikel, narasumber, Ombudsman Kompas, agen dan pengecer, termasuk pemerintah yang memberikan kesempatan bagi Kompas dalam ikut serta menegara dan memasyarakat. Juga kepada seluruh karyawan, termasuk wartawan, mereka yang sudah purnakarya maupun masih berkarya.

Yang membentang di depan tantangan semakin bervariasi, dan persaingan antarindustri media semakin ketat. Yang tak putus kami usahakan adalah terus berseru di tengah kebisingan! Tidak asal berteriak, tetapi secara cerdas, bernalar, serba tahu diri.

Nama Kompas lebih mulia dan lebih besar daripada nama pendiri dan pengasuhnya. Kompas berusaha membalikkan pernyataan bersayap pujangga Jerman, Johann von Schiller, "Abadnya abad besar yang melahirkan zaman besar, tetapi momen sebesar ini hanya mendapatkan manusia kecil". Dalam 50 tahun ke depan, kita berusaha semoga zaman besar menghasilkan manusia besar, bukan manusia kecil. Syukur dan terima kasih kepada semua pihak!  
Sumber: Kompas, 28 Juni 2015
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger