Headlines News :
Home » » Indikasi Misteri di Rumah Jabatan Bupati Lembata

Indikasi Misteri di Rumah Jabatan Bupati Lembata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Monday, June 08, 2015 | 10:54 PM

Oleh Melky Koli Baran 
Direktur YPPS Larantuka, Flores Timur

SURFA Uran, Romo Yeremias Rianghepat dan Irwan Paokuma, warga kota Lewoleba, Lembata. Surfa adalah PNS pada Dinas Keperjaan Umum kabupaten Lembata dan Irwan tenaga kontrak pada kantor BPBD kabupaten Lembata. Romo Yeremias pastor di Lewoleba. Ketiganya menjalani pemeriksaan di Polres Lembata (3/6/2015). Misteri kematian Laurensius Wadu yang membawa mereka berhadapan dengan polisi. Ini juga bermula dari keterangan Alex Murin di pengadilan sebelumnya dan pengakuan Romo Yeremias dalam sejumlah kesenpatan lain.

Laurensius Wadu telah berpulang dua tahun silam, tepatnya 8 Juni 2013. Namun teka teki tentang kematiannya cenderung menjadi misteri ketika lokasi kematian di pondoknya di hutan Keam seakan diragukan. Lalu muncul indikasi baru.Tempat pembunuhan dramatis itu justru di Rumah Jabatan bupati Lembata yang saat itu dan hingga kini masih resmi ditempati bupati Eliaser Yentji Sunur. Apakah bupati tahu?

Pikiran sehat ditambah kualitas moral yang memadai tentu meragukan indikasi terakhir ini. Tidak mungkin sebuah rumah jabatan pejabat negara jadi tempat kriminal. Namun kembali menelusuri kisah hukum di tangan para penyidik hingga ke meja pengadilan serta sejumlah “geliat informasi” di lapangan, justru indikasi baru itu punya berkorelasi dengan sejumlah informasi sebelumnya dalam drama penegakan hukum ini.

Kisah Video di Rumah Jabatan

Ketika diperiksa dalam persidangan kasus pencemaran nama baik bupati Lembata, Alex Murin, tersangka kasus itu membuka informasi baru tentang tempat lain yang diduga jadi lokasi eksekusi almarhum Laorens Wadu. Pengakuan Alex, seseorang telah menceritakan padanya bahwa pernah menonton sebuah video pengangkatan jenasah di rumah jabatan bupati Lembata. Video ini dikaitkan dengan kematian Lorens Wadu si pemilik tanah di hutan keam yang kabarnya dilirik dan hendak dibeli oleh bupati atau Pemda Lembata.

Polisi yang cerdas dan professional, layak menjadikan pengakuan ini sebagai petunjuk baru.Informasi awal untuk sebuah penyelidikan lapangan.

Ternyata informasi tentang video itu Alex terima dari Surfa Uran.Tanggal 3 Juni 2015, Surfadi hadapan penyidik Polres Lembata mengaku pernah menonton video pengangkatan jenasah terbungkus kain di rumah jabatan bupati Lembata oleh empat orang. Dua orang di antaranya adalah tersangka kasus ini yang telah jadi terpidana.

Dari keterangan Surfa Uran, polisi kemudian memeriksa Irwan Paokuma, pegawai kontrak pada BPBD Kabupaten Lembata, pemilik video itu. Di hadapan penyidik, Irwan mengatakan tidak pernah memperlihatkan video seperi itu kepada Surfa.Mana yang bohong, Surfa atau Irfan?

Ketakutan Irwan

Walau Irwan  si pemilik video yang sempat menghilang itu membantah di hadapan penyidik, namun tidak berarti keterangan Surfa tidak menjadi indikasi dan petunjuk bagi polisi. Surfa juga mengatakan pernah menelpon Irwan beberapa saat setelah itu untuk klarifikasi tentang video itu dan Irwan mengatakan sedang berada di Adonara, padahal dia di Ile Ape. Saat keduanya dikonfrontasi dalam pemeriksaan, Irwan mengaku terpaksa menipu karena takut. Bahkan ekspresi ketakutan Irwan juga muncul ketika diwawancarai Flores Pos usai diperiksa Polisi. Ia takut berurusan dengan polisi karena pernah dipenjara.

Ada dua pesan penting. Pertama, Surva menonton video pengangkatan jenasah di rumah jabatan Bupati Lembata oleh 4 orang dari HP miliknya Irwan. Dua di antaranya diketahui sebagai tersangka pembunuhan Lorens Wadu yang kini telah jadi terpidana. Kedua, beberapa saat setelah itu, Surfa menelpon Irwan ingin konfirmasi tentang video itu dan Irwan menipu sedang berada di Adonara. Mengaku menipu karena takut. Apakah Irwan takut karena telah terlanjur memperlihatkan video pengangkatan jenasah di rumah jabatan bupati? Jenasah siapa? Saat itu Irwan bekerja di rumah jabatan bupati Lembata sebagai penjaga rusa.

Walau Irfan di hadapan penyidik (3/6) megatakan tidak, hal ini tidak lalu menghentikan langkah penyelidikan. Keterangan Irwan terkait dirinya menyangkal ketika ditelepon Surfa karena takut mesti menjadi indikasi bagi penyidik untuk mendalami kasus ini lebih lanjut, khusus tentang lokasi matinya Lorens Wadu.

Misteri Mobil Merah

Saksi lain yang dimintai keterangan oleh Polres Lembata setelah dua tahun kasus ini terjadi adalah Romo Yeremias Rongan Rianghepat. Pada malam sebelum Lorens Wadu ditemukan tak bernyawa, Romo Yeremias sempat bertemu dengan sebuah mobil warnah merah yang masuk lewat kebun misi menuju kearah pondok Lorens Wadu. Bahkan sopir mobil yang bernama Omi Wuwur yang telah pula ditetapkan sebagai tersangka kasus ini menanyakan jalan menuju ke kebun dan pondok milik  Lorens Wadu.

Lebih menarik dan bisa dijadikan indikasi yang punya korelasi juga dengan keteragan Surfa tentang video di rumah jabatan adalah identifikasi lebih jauh tentang mobil merah tersebut. Menurut Romo Yeremias, ia mengenal mobil merah itu. Itu adalah mobil milik bupati Lembata. Sama seperti Irfan yang sempat menghilang setelah bertemu dengan Surfa, demikian pula dengan mobil merah itu yang hingga tidak ada lagi di Lembata. Ke mana perginya, hanya pemiliknya yang tahu.

Hal yang sama antara keterangan Romo Yeremias dan Surfa adalah “Rumah Jabatan”. Surfa dalam keteragannya di polisi mengatakan, lokasi pengangkatan jenasah yang dia lihat di video adalah di rumah jabatan bupati Lembata.Romo Yeremias juga mengatakan, mobil merah yang dia lihat malam itu adalah mobil yang biasa diparkir di rumah jabatan bupati Lembata. Apakah video pengangkatan jenasah itu terjadi pada malam yang sama ketika Romo Yeremias bertemua dengan mobil merah milik rumah jabatan bupati Lembata? Kalau benar maka bisa saja malam itu ketika mobil merah itu nyasar di kebun misi, di dalamnya ada jenasah. Jika benar maka kedua peristiwa ini punya hubungan dengan penemuan jenasah Lorens Wadu di pondoknya?

Jika polisi masih sulit menghubungkan video yang diceritakan Surfa dengan mobil merah yang diceritakan Romo Yeremias, sebetulnya kehadiran mobil itu di kompleks misi yang sedang mencari jalan ke pondoknya Lorens Wadu mesti jadi fokus untuk mengungkap apa hubungan kehadiran mobil itu di malam itu dengan penemuan jenasah Lorens Wadu keesokan harinya. Dua peristiwa ini punya kesamaan. Malam itu mobil merah sedang mencari jalan ke pondoknya Lorens Wadu. Besok paginya ada temuan jenasah di pondok yang hendak ditujui mobil merah semalam. Ini bisa jadi indikasi untuk membuka misteri ini.

Berubahnya Keterangan Tersangka

Sejumlah tersangka diadili di PN Lewoleba meyebut sejumlah pelaku pembunuhan Lorens Wadu, termasuk seorang polisi dan seorang anggota DPRD Lembata. Lalu dalam sidang berikutnya, tersangka tersebut menarik keterangannya dengan alasan keterangan yang ia sampaikan sebelum ya diperolehnya dalam mimpi. Belakangan diketahui, bahwa selama dalam tahanan, para tersangkadisiksa. Setelah itu, para tersangka menarik kembali keteragan sebelumnya.

Surfa dalam keterangannya tentang video pengangkatan jenasah di rumah jabatan mengatakan, ada empat orang yang angkat jenasah.Dua orang yang berhadapan dengan lensa dikenal sebagai tersangka yang kini telah jadi terpidana. Dua lainnya yang membelakangi lensa tidak diidentifikasi. Jika keterangan ini dikaitkan dengan berubahnya keterangan tersangka di pengadilan, maka bisa jadi indikasi bahwa masih ada pelaku lain yang belum tersentuh, yang masih disembunyikan sehingga keterangan tersangka lainnya terus berubah di pengadilan.

Keterangan saksi/tersangka yang berubah-ubah juga mengindikasikan bahwa keterangan di pengadilan itu disampaikan bukan di bawah sumpah tetapi di bawah dikte dan tekanan. Karena itu maka dalam kasus kematian Lorens Wadu, masih tersimpan berbagai misteri. Penyidik belum mampu atau sengaja tidak mampu menghubungkan berbagai indikasi yang muncul dalam perkara ini untuk mengungkap misteri ini. Romo Yeremias telah lama bicara di depan umum tentang hadirnya mobil merah milik rumah jabatan bupati Lembata yang berusaha mencari jalan ke pondok Lorens Wadu, namun setelah dua tahun baru ia dimintai keterangan secara resmi oleh polisi. Ini juga indikasi ketidakmampuan (kesengajaan) penyidik. 
 Sumber: Flores Pos, 8 Juni 2015
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger