Headlines News :
Home » , » Sepulang dari Ertsberg

Sepulang dari Ertsberg

Written By Ansel Deri on Wednesday, June 22, 2016 | 11:51 AM

PT Freeport Indonesia mungkin tidak akan pernah melakukan kegiatan penambangan di Papua. Informasi tiga peneliti asal Belanda sepulang dari Ertsberg menandai jejak awal perusahaan tambang raksasa itu melebarkan usahanya di Bumi Cenderawasih.

PALING kurang hal itu yang tergambar dari sejarah perjalanan PT Freeport Indonesia –perusahaan yang berafiliasi dengan Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.– di tanah Papua kurun waktu tahun 1936-1988, termasuk momentum penandatanganan Kontrak Karya Pertama (KK-I) pada 5 April 1957. KK-I yang diteken Menteri Pertambangan Republik Indonesia Slamet Bratamana ini berlaku untuk masa 30 tahun.

Sekadar tahu, saham mayoritas: 81,28 persen dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc., raksasa tambang Amerika Serikat yang berbasis di Phoenix, Arizona. Kemudian selebihnya, 9,36 persen saham dimiliki bersama Pemerintah Indonesia dan Indocopper Investama. Di tingkat global Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. mengoperasikan aset-aset besar, berumur panjang, dan secara geografis berada di empat benua dengan cadangan tembaga, emas, perak, dan molybdenum (sejenis logam transisi berwarna putih keperakan) yang jelas ada dan berpotensi.

Mulai dari pegunungan katulistiwa Papua (Indonesia), gurun Barat Daya Amerika Serikat, pegunungan berapi yang agung Peru, wilayah-wilayah penghasil tembaga tradisional Chile, sampai berbagai kesempatan menggembirakan yang muncul di Republik Demokratik Kongo. “Kami berada di garis depan dalam penyediaan berbagai logam yang esensial bagi dunia,” begitu yang tercatat dalam laporan ‘Memangun Dunia’ PT Freeport Indonesia, edisi 2011.

Namun, kembali soal kisah Ertsberg yang menjadi pembuka pintu jejak Freeport di tanah Amungsa, Papua. Tahun 1936, tiga peneliti asal Belanda masing-masing Jean-Jacques Dozy, Anton Hendrik Volijn, dan Frits Julius Wissel dalam upaya mencapai Gunung Gletser Jayawijaya menemukan Ertsberg atau Gunung Bijih. Ertsberg tak lain sebuah batuan hitam kokoh dengan kandungan tembaga menonjol 1.800 meter di atas permukaan tanah di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut (dpl) terbesar di dunia.

Menurut penulis dan aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) Papua Markus Haluk, jauh sebelumnya pada 1623, Kapten Jan Carstensz berlayar di sepanjang pesisir tenggara kepulauan Papua. Carstensz menjadi orang pertama di dunia yang melihat puncak gunung tertinggi yang ditutupi salju. Nama Carstensz akhirnya diabadikan pada gunung tersebut yang dalam bahasa Amungkal disebut Nemangkawi.

Sekadar tahu lebih jauh, Dozy bukan orang biasa. Ia ahli geologi berkebangsaan Belanda, penemu Ertsberg, salah satu gunung yang akhirnya dieksplorasi perusahaan tambang raksasa dunia: Freeport Sulphur Company, yang belakangan berubah nama Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Dozy pula yang melakukan ekspedisi (Carstensz Expedition) ke Papua pada 1936. Ia lahir di Rotterdam Belanda, 18 Juni 1908 dan meninggal di Belanda pada 1 November 2004.

Ia juga yang menamai Ertsberg Mountain, yang diketahui melalui laporannya dan laporan tersebut baru dibaca Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. tahun 1960. Dalam laporan itu, ia menulis potensi emas yang dilihatnya di pegunungan Papua tatkala masih bekerja di Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij, salah satu anak perusahaan Shell Company. Dozy melaporkan penemuan tersebut dalam jurnal Geologi Leiden tahun 1939. Namun, karena pecah Perang Dunia II laporan tersebut tidak menarik perhatian dan tersimpan rapi.

Tahun 1960, setelah lima belas tahun Indonesia merdeka, peneliti lain, Forbes Wilson dan Del Flint menemukan kemudian membaca laporan Dozy. Berbekal laporan tersebut Wilson meluncurkan Ekspedisi Freeport dengan tujuan tak lain untuk mencapai Ertsberg. Ekspedisi ini menggunakan 14 perahu kuno dan 44 pendayung asli Komoro untuk mengangkut manusia dan barang melalui Sungai Mawati ke arah hulu di kaki pegunungan.

Berdasarkan catatan Wilson dalam The Conquest of Copper Mountain, April 1960 ia mulai mempersiapkan petualangan. Pada Mei 1960, ia bertolak ke Papua untuk membuktikan catatan Dozy. Anggota timnya sebanyak enam puluh orang. Mereka mengangkut kembali sampel bijih tembaga.

Sayangnya, alam Papua terlalu ganas untuk ditaklukkan. Angin puncak gunung sepertinya tak bisa diajak kompromi. Tak ayal, ia dan timnya mesti memaku tenda dan kantong tidurnya sehingga tak mampu diterbangkan angin yang berhembus kencang. Perjalanan itu membuahkan hasil setelah ratusan sampel batu Ertsberg bisa dibawa kembali.

"Dalam perjalanan pulang ke New York bulan Juli 1960, saya begitu gembira dengan penemuan saya di Erstberg," ujar Forbes Willam seperti dirilis dalam The Conquest of Copper Mountain. Ia mengaku, hingga dua tahun kemudian pihaknya tak bisa melakukan apa-apa. “Setiap hari saya cuma makan siang sambil melakukan penelitian tentang ekspedisi awal di Irian Barat di Perpustakaan Umum New York dan sore harinya menuliskan catatan tentang ekspedisi 1960," ujar Wilson.

Mozez Kilangin

Merujuk Nota Kronika dari Tembagapura, ekspedisi berhasil. Hal ini berkat bantuan Mozez Kilangin, seorang warga asli Suku Amungme dari Lembah Tsing, Mimika. Mozez yang membantu menunjukkan jalan, mengatur logistik, dan mengatasi perselisihan di pegunungan. Ekspedisi Freeport berhasil menemukan Ertsberg. Gunung Bijih ini diklaim memiliki deposit tembaga terkaya di atas permukaan tanah dan terdapat di atas tanah ulayat masyarakat Papua.

Namun, untuk memulai mengembangkannya agar mendatangkan nilai ekonomi tinggi bukan perkara mudah. Upaya mengembangkannya sulit dilakukan. Selain lokasi terpencil, transportasi pengolahan bijihnya juga tidak mudah. Tatkala Freeport melakukan pemboran untuk evaluasi cadangan bijih, tantangannya adalah mengangkut alat pemboran yang berton-ton beratnya menggunakan helikopter dengan kapasitas angkut 210 kg ke ketinggian 3.600 meter dpl.

Pada tahun 1963 berlangsung serah terima Nederlands Nieuw Guinea dari pihak Belanda ke Perserikatan Bangsa Bangsa, yang pada akhirnya mengalihkan Freeport ke Indonesia. Rencana proyek ditangguhkan akibat kebijakan Soekarno. Tahun 1966, peralihan kekuasaan penuh dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Pembentukan pemerintahan baru yang mendorong investasi sektor swasta serta langkah-langkah reformasi ekonomi lainnya.

Menurut penulis Amerika Serikat Bradley R Simpson, hanya beberapa bulan setelah pecah peristiwa Gerakan 30 September dan melemahnya posisi Presiden Soekarno pada April 1966, Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. sudah memberitahu Departemen Luar Negeri AS bahwa Freeport membutuhkan satu kelompok pengusaha pro Undang Undang Penanaman Modal Asing (PMA) sebagai syarat perjanjian, yaitu perlindungan investasi dan iklim investasi yang layak.

Masuknya Freeport Sulphur Company ke Papua didukung dengan lahirnya Undang Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang disahkan pada 10 Januari 1967. Sementara itu Indonesia secara de facto masih dipimpin Soekarno. UU PMA telah didesain sejak awal melibatkan pihak asing dalam merumuskan, menyusun, dan memperbaiki bab demi bab hingga proses pengesahan Undang Undang tersebut.

“Perusahaan konsultan Amerika Van Sickle Associates yang berkantor pusat di Denver, membantu pejabat Orde Baru menyusun materi UU PMA sejak September 1966,” ujar Haluk mengutip Bradley Simpson. Freeport dan investor asing –jelas Haluk– memandang Soekarno yang antikapitalis dan antikolonialis sebagai batu sandungan besar mengeruk kekayaan alam di Irian Barat. Karena itu, jatuhnya Soekarno merupakan momentum yang ditunggu.

Setelah Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto pada 12 April 1967, sebulan sesudah UU PMA disahkan, pada 5 April 1967 Freeport dan Pemerintah Indonesia menandatangani Kontrak Karya Pertama (KK-I). Penandatanganan KK-I ini lebih awal dua tahun dari Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Tahun 1969. Hal ini terkait dengan lobi-lobi Elsworkth Bunker yang  mengusulkan New York Agreement 1962 dan Rome Agreement 1969.

Bos Freeport kala itu, Langbourne Williams, jeli melihat peluang meneruskan proyek Erstsberg. Ia menyambangi Julius Tahija, bos Texaco dan kolega satu leting dengan Presiden Soeharto. Julius adalah serdadu Hindia Belanda atau Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL). Lelaki kelahiran Surabaya, 1916 itu adalah ajudan Panglima KNIL Jenderal Simon Spoor, musuh besar Jenderal Soedirman.

Langbourne dan Julius kemudian bertemu Menteri Pertambangan dan Perminyakan Indonesia Jenderal Ibnu Sutowo. Pertemuan bertujuan meminta agar Freeport dapat meneruskan Ertsberg. Pertemuan demi pertemuan yang alot akhirnya membuahkan hasil dan Freeport meneruskan proyek tersebut. Itulah awal mula Keberhasilan KK-I. Keberhasilan KK-I ini menjadi materi utama Julius Tahija memperkenalkan Indonesia ke luar negeri dan mempromosikan kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA).

Kalau saja tak ada informasi dari Dozy, Volijn, dan Wissel sepulang dari Ertsberg, ceritanya tentu akan lain. Tak berlebihan menyebut mereka sebagai juruselamat Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. mengayun langkah ke timur, di tanah Melanesia, guna mengeksplorasi kandungan perut bumi Nemangkawi seperti tembaga, emas, perak, molibdenum, dan lain-lain. 
Ansel Deri
Sumber: Papua Bangkit
Ket foto: Puncak Carstenz Papua
Sumber foto: google.co.id
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger