Headlines News :
Home » » Sr Merry Teresa Sri Rejeki HCarm: Jenderal Hermanas Carmelitas

Sr Merry Teresa Sri Rejeki HCarm: Jenderal Hermanas Carmelitas

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, November 14, 2017 | 8:45 PM

Pada mulanya, ziarah panggilan Sr Merry ditentang orangtuanya yang bukan Katolik. Kini ia menjadi orang Indonesia pertama yang duduk di kursi Jenderal HCarm.

SEBANYAK 38 anggota Kongregasi Para Saudari Perawan Maria dari Gunung Karmel (Hermanas De La Virgen Maria Del Monte Carmelo/HCarm) dari pelbagai negara menghadiri Kapitel Jenderal di Rumah Retret HCarm di Valencia, Spanyol, Agustus silam. Pemilihan Jenderal HCarm menjadi puncak kapitel selama sepekan lebih itu. Sr Merry Teresa Sri Rejeki HCarm dari Indonesia terpilih sebagai Jenderal HCarm.

Sr Merry tak menyangka dan tak berharap akan terpilih. Bahkan saat detik-detik pemilihan, jantungnya berdegup. Ia khawatir, kalau-kalau ia terpilih memangku jabatan mahapenting itu. Dalam hati, Sr Merry masih tak percaya dan berdoa, “Saya merasa kecil, miskin, dan tidak percaya. Ya, Tuhan bersegeralah menolong aku,” sitir Sr Merry mengenang peristiwa itu.

Tetapi kekhawatiran itu tak berlangsung lama. Usai pembentukan anggota Dewan Jenderal, para peserta Kapitel dalam ikrar ketaatan menyatakan sehati sejiwa kepada jenderal baru mereka. Di depan ruang pertemuan, beberapa suster dari Indonesia dan Timor Leste menyanyikan lagu “Terima Kasih Ya Tuhan”.

Sempat ditentang

Ziarah panggilan Sr Merry penuh lika-liku. Ia lahir dari ayah yang beragama Budha dan ibu yang beragam Kristen. Tapi lingkungan Sekolah Katolik Sang Timur Malang menjadi persemaian benih-benih panggilan dalam dirinya. Ia kerap menggunakan uang jajan untuk membeli hadiah bagi suster yang ulang tahun. “Saya pernah memberi coklat kepada salah satu suster. Ketika diberi, suster itu menangis terharu,” kisahnya.

Di sekolah ini pulalah, ihwal ia menerima baptisan. Dalam sebuah momen, ia memandang teman-temannya saat menerima komuni suci. Merry kecil rindu untuk menerima Tuhan yang tersamar itu. Inilah sebab, ia minta dibaptis pada umur 13 tahun dan mulai aktif menjadi misdinar. Menginjak bangku SMA, Romo Kepala Sekolah SMA St Albertus Malang juga memupuk panggilannya dengan tugas rutin memimpin doa di ruang operator. “Saya disuruh buat doa, dipinjami buku rohani. Saat itu panggilan saya terpupuk,” kenangnya.

Panggilan yang terpupuk itu berkecambah ketika pada April 1985, tiga suster HCarm dari Bobonaro, Timor-Timur (sekarang Timor Leste) tiba di Malang untuk merintis rumah pembinaan. Romo Piet Go Twan An OCarm menginisiasi pembentukan rumah binaan di Malang itu. Kala itu Sr Merry bersama Romo Piet Go membantu mereka mencari rumah kontrakan.

Sr Merry kerap mengunjungi rumah HCarm. Hatinya terpaut dengan komunitas baru itu. Ia pun meminta ijin kepada kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya menolak dengan amarah. Bahkan sang ayah mendatangi biara HCarm. Sang ibu juga sama. Ia marah kepada para suster HCarm dan menghukum Sr Merry dengan tidak menyapa selama tiga hari.

Tapi Sr Merry tak bergeming. Kedua orangtuanya pun luluh. Mereka mengizinkan putri sulung mereka, dengan catatan apabila tidak kerasan, Sr Merry diperbolehkan pulang ke rumah. Pada 8 September 1985, Sr Merry tercatat sebagai anggota HCarm angkatan pertama di Malang.
Studi dan buruh

Karena dalam biara hanya Sr Merry yang berasal dari Indonesia, ia pernah mengalami keterasingan. Tak lama kemudian, datang suster HCarm dari Timor-Timur, Sr Fransiska yang diminta membina Sr Merry juga mengajari bahasa Spanyol. Saat itu, rumah kontrakan HCarm berpindah-pindah. Hidup mereka sederhana, bahkan minyak goreng yang dipakai adalah jelantah sumbangan dari beberapa tarekat lain. Untuk mendalami spiritualitas dan psikologi Sr Merry dititipkan ke tarekat lain di Malang. Usai kaul novis yunior, Sr Merry studi di STFT Widya Sasana Malang dan diminta mengajar para novis setiap hari Kamis.

Tahun 1993, Sr Merry lulus kuliah. Sebelum pengumuman kelulusan, September 1993, ia diutus ke Spanyol. Sampai di Salamanca, Spanyol, ia mendalami bahasa Spanyol dan kursus teologi. Di sana, ia juga bekerja sebagai buruh cuci pakaian di Asrama Mahasiswa milik Karmel dan di Seminari Menengah. “Di rumah, saya gak pernah nyuci bajunya papa, di tempat itu saya diminta mencuci baju anak-anak asrama,” kenangnya.

Pada 18 September 1994, Sr Merry mengucapkan kaul kekal. Beberapa jam seusai kaul, ia diberi kesempatan menelepon kedua orangtuanya dan mendapat jawaban dari sang Ibu, “Sudah, terus saja, yang penting setia sampai mati,” jawab ibunya waktu itu.

Sr Merry kemudian diutus studi di Universidad Pontificia Comillas Madrid Teologi Spiritual. Tahun 1998, ia menyelesaikan studi dan mendapat cuti untuk pulang kampung. Ketika mengunjungi komunitas HCarm di Meruya, Jakarta, tak disangka pemimpin HCarm di tempat itu meninggal. Ia lantas diminta memimpin komunitas di Meruya. Setahun berselang, Sr Merry diangkat menjadi Magistra Novis dan tinggal di Malang. Ia juga diminta mengajar di STFT Widya Sasana Malang. “Kurang lebih 18 tahun saya mengajar. Di formatio saya lama menjadi magistra novis, magistra yunior, dan mendampingi suster bina lanjut,” ujarnya.

Saling berbagi

Kini, di Indonesia terdapat 12 komunitas Suster HCarm yang berkarya di lima keuskupan: Keuskupan Agung Jakarta, Medan, Ende, serta Keuskupan Malang dan Maumere. Anggotanya sekitar 70 suster dan berkarya sesuai kebutuhan keuskupan setempat.

Di tingkat dunia, dalam Kapitel, Agustus lalu, mereka telah merumuskan visi dan misi HCarm ke depan. Mereka akan fokus kepada pastoral orang muda untuk mengatasi keringnya panggilan di Eropa.

Pasalnya, jumlah suster di Eropa yang lanjut usia semakin tinggi. Jika rumah-rumah HCarm tidak dihuni, rumah itu akan ditutup. Kini, mereka sadar untuk meningkatkan kerjasama internasional. “Karena karya bersama, kini tidak boleh mikir diri sendiri atau provinsi sendiri-sendiri. Para susternya harus siap dikirim tugas misi di luar Indonesia. Ketika bermisi, mereka saya harapkan tidak lupa akan nilai-nilai ketimuran yang harus tetap dibawa.”

HCarm juga telah meningkatkan misi ke Haiti, Republik Dominika, dan Puerto Riko. Mereka juga memperkuat semangat internasionalitas dan semangat berbagi. “Kini, kami harus saling membantu antarprovinsi, tidak hanya uang, namun juga sumber daya manusia,” pungkas Sr Merry.

Sr Merry Teresa Sri Rejeki HCarm
TTL: Malang, 4 Juli 1966

Pendidikan:
• SMPK Sang Timur Malang
• SMUK St. Albertus Malang
• Novisiat Hermanas Carmelitas di Malang
• Yuniorat Hermanas Carmelitas di Malang dan Salamanca
• STFT Widya Sasana Malang
• Cursillo de Espiritualidad en la Universidad San Esteban, Salamanca, Spanyol.
• Bachiller en Teología en la Universidad Pontifi cia Comillas, Madrid, Spanyol.
• Licenciada en Teología en la Universidad Pontifi cia Comillas Madrid
• Formación Permanente de la Congregación Valencia

Karya:
• Administrasi BKIA Melania Malang
• Mengajar novis H.Carm
• Guru Bina Iman SMUK dan SMPK Abdi Siswa Jakarta
• Mengajar di Kursus Gabungan Novis Keuskupan Malang
• Magistra Novis Hermanas Carmelitas
• Bendahara Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Malang
• Dosen Spiritualitas STFT Widya Sasana Malang
• Bendahara Panitia APP Keuskupan Malang
• Tim Rekoleksi Imam Keuskupan Malang
• Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Malang
• Pembantu Ketua II STFT Widya Sasana Malang
• Magistra Yunior Hermanas Carmelitas
• Mengajar di Kursus Teologi Regina Apostolorum Malang
• Mengajar pascasarjana di IPI Malang
• Mengajar di Kursus Gabungan Postulan Malang
• Mengajar Kursus Teologi di Unika Dharma Cendika Surabaya
• Pendamping bina lanjut Hermanas Carmelitas
A Nendro Saputro
Sumber: HIDUPKATOLIK.com, 8 November 2017 
Ket foto: Sr Merry Teresa Sri Rejeki HCarm
Sumber foto: http://www.sesawi.net & 
HIDUPKATOLIK.com
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger