Headlines News :
Home » » Si Cantik di Muara Ciliwung

Si Cantik di Muara Ciliwung

Written By Ansel Deri on Thursday, March 09, 2017 | 9:57 AM

BANGUNAN ini memiliki tapak sejarah yang tidak biasa. Ada empat gubernur jenderal VOC yang pernah bermukim di sini. Dengan dinding warna merah bata, gedung yang berusia 285 tahun ini menonjol di antara deretan bangunan di kawasan Kota Tua Jakarta.

Dari balik jendela besar dengan kaca berangka kotak-kotak, Thomas Ataladjar menunjuk ke arah Kali Besar, yang di zaman zaman kolonial Belanda disebut De Groote Rivier, yang merupakan muara sungai Ciliwung

“Dari Jendela ini Van Imhoff bisa melihat kapal-kapal yang melintasi Kali Besar. Dulu kali ini merupakan wilayah lalu lintas air yang padat,” kata Thomas, penulis buku Toko Merah, merujuk pada Gustaaff Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jendral VOC (1743-1750), yang merupakan pemilik pertama bangunan yang sampai kini dikenal sebagai Toko Merah.

Van Imhoff juga antara lain mendirikan kantor pos pertama di Batavia, koran pertama (Bataviasch Nouvelles), bank pertama dan juga mendirikan Istana Bogor.

Di dekat jendela yang merupakan ruang kerja Van Imhoff itu terdapat sebuah lemari tua yang terbuat dari jati. Lemari itu merupakan satu dari dua barang asli yang masih tersisa di Toko Merah. “Semua isi kamar ini sudah dipindahkan ke bangunan Museum Gajah tahun 1901, menjadi Ruang Kompeni (Compagnieskamer). Itu adalah bagian terindah dan istimewa dari gedung ini. Dipindahkan karena jika gedung ini sampai runtuh, mereka ingin jejak nenek moyangnya tetap terjaga,” kata Thomas yang bukunya banyak menjadi acuan para peneliti maupun mereka yang berminat pada sejarah Batavia.

Kami kemudian memasuki pintu utama, satu-satunya pintu yang bergaya baroque, dengan dekorasi khas keemasan berupa relief dinding yang menggambarkan warga lokal yang sedang membawa padi dan hasil palawija seperti manggis dan anggur. Di ujungnya terdapat relief Museum Fatahillah (dahulu Staadhuis, Balai Kota).

Begitu melangkah ke dalam, kami berdiri di tengah ruangan yang luas dan megah, dikelilingi jendela-jendela kaca yang tinggi dan lebar dengan desain kotak-kotak. Ruangan mirip aula ini memiliki langit-langit tinggi yang berlapiskan kayu, masih sesuai kondisi asli ketika gedung berdiri tahun 1730.

Di masanya ruangan yang kerap digunakan untuk jamuan dan dansi-dansi itu  dibelah oleh sekat berupa pilar-pilar dan dinding kayu menjadi ruangan utara dan selatan. Kini sekat tersebut hanya tinggal pilar dan lis dari kayu jati. Ini merupakan keunikan Tokoh Merah. Dari luar terlihat seperti satu bangunan. Namun, di dalamnya terdapat dua bangunan kembar. “zaman dulu, bangunan selatan untuk tempat tinggal ibunda Van Imhoff yang utara untuk keluarga Van Imhoff,” jelas Thomas.

Melalui tangga kayu berukir, kami berjalanan menuju ke atap bangunan dan memasuki “ruangan” yang dipenuhi rangka atap kayu berupa palang-palang kayu. Di luar, udara kemarau begitu terik menyengat. Namun, di selasar ini, panas seperti terserap, menyisakan udara yang adem dan lembab. Matahari menerobos  sebuah “jendela” besar yang berada di sisi atap. “Dari sini dulu pelabuhan Sunda Kelapa masih terlihat jelas. Tempat ini digunakan untuk mengintip suasana di pelabuhan, memonitor kapal-kapal yang datang,” kata Thomas.

Tonggak-tonggak jati yang menopang atap, juga lantai kayu yang usianya hampir tiga abad itu, semua masih asli dan kokoh. Bangunan ini bersih dari serbuan rayap. “Itu berkat ramuan China yang dioleskan pada kayu sewaktu dibangun dulu. Ramuannya terbuat dari apa, saya tidak tahu,” kata Thomas.

Dari jendela belakang, kita bisa melihat  halaman luas yang berbatasan dengan jalan Roa Malaka. Dari bentuk bangunannya yang sederhana dan  memanjang, bisa ditebak wilayah ini adalah wilayah “belakang”, wilayah kawula. “Itu tempat budak-budak. Seorang pejabat bisa punya ratusan budak,” kata Thomas. Dari foto-foto tempo dulu, bisa dilihat bagaimana para budak ini mengangkat tuannya bepergian ke mana-mana, memayungi istri atau para selir, mengelap sepatu, dan lainnya.



Penghuni Penting

Toko Merah sepanjang era kolonialisme selalu menjadi incaran para penguasa lokal karena lokasinya sangat strategis di pusat pemerintahan. Letaknya hanya “selemparan batu” dari Museum Fatahillah, berseberangan dengan Gereja Belanda Lama (De Oude Hollandsche Kerk, kini Museum Wayang), juga dengan stasiun kereta api, dan banyak titik penting lainnya.

Selain Van Imhoff, tiga gubernur Jendral VOC lainnya yang memilih tinggal di bangunan ini adalah Jacob Mossel, Reiner de Kerk, dan Petrus Albertus  van de Parra. Menantu dari Mossel, Nicolas Hartingh, yang pernah tinggal di sini, merupakan penanda tangan Perjanjian Giyanti, yang membagi kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Dokumen sejarah mencatat, sebuah “toko merah” muncul ketika bangunan itu dimiliki warga Tionghoa, Oey Liauw Kong, pada pertengahan abad ke-19 dan digunakan sebagai toko. Kusen jendela, pintu, juga tembok muka bangunan, semua dicat merah. Orang sekitar kemudian mejulukinya sebagai Toko Merah.

Pasca kemerdekaan, Toko Merah berubah fungsi sebagai kantor sejumlah perusahaan. Yang terlama adalah PT Dharma Niaga, tahun 1977-2003. Thomas yang merupakan pegawai Dharma Niaga tertarik untuk meneliti lebih jauh bangunan ini. “Setiap ada orang datang ke kantor dan bertanya tentang Toko Merah, selalu dikirim ke saya karena tidak ada satupun di kantor yang tahu tentang sejarah gedung ini. Saya butuh waktu 10 tahun untuk mengumpulkan data, lalu saya kumpulkan jadi buku. Saya kirim juga bukunya ke Ratu Beatrix,” kata Thomas.

Belum lama ini, seorang peneliti dari Australia menghubunginya dan memberi informasi bahwa penjelajah asal Inggris, Kapten James Cook, kemungkinan pernah menginap di Toko Merah saat bangunan itu berfungsi sebagai hotel (heerenlogement) sekitar tahun 1786-1808. Saat itu sebagian awak kapal Cook terkena malaria. Jika benar, tentulah nilai sejarah gedung ini akan semakin tinggi.

Toko Merah saat ini dikelola oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) yang membuka kembali gedung ini pada tahun 2012. Gedung ini menurut rencana akan difungsikan sebagai tempat pertemuan, konferensi, maupun, ruang pamer (Kompas, 20 Juli 2013).

Sayangnya, kejelitaan Toko Merah kini memudar. Pantulan cahaya dengan jelas menunjukkan debu yang menebal di seantero lantai gedung. Kaca-kaca jendela yang sudah dimakan usia, buram tersaput debu. Rumput liar memenuhi pekarangan samping si Merah yang hampir berusia tiga abad itu harus bersabar menanti polesan. (Myrna Ratna). 
Sumber: Kompas, 27 September 2015 
Ket foto: Thomas Ataladjar, penulis buku Tokoh Merah dengan latar gedung Tokoh Merah (gambar 1) dan (gambar 2) saat berada di ruang perpustakaan pribadi di rumahnya, Bojonggede, Jawa Barat.
Foto: Repro Kompas & dok Thomas Ataladjar
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger