Headlines News :
Home » » Dipikir "Sambe Beta" Ternyata Antraks

Dipikir "Sambe Beta" Ternyata Antraks

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, November 08, 2007 | 4:13 PM


Hari itu Damianus Satu bersama istri dan dua anaknya makan malam sampai kenyang dengan lauk daging kerbau. Menu makanan berupa daging kerbau merupakan suatu hal yang jarang didapat, dan karena itu tergolong mewah. Apalagi untuk ukuran masyarakat di daerah terpencil Wolotou.

Damianus Satu terpaksa menyembelih seekor kerbau miliknya yang tambun karena mati mendadak pada petang hari sehabis berkubang di rawa-rawa di sekitarnya. Dia sebenarnya amat menyayangkan kerbau betina itu mati. Selain tambun, kerbau itu juga begitu produktif. Sudah dua kali beranak. Setelah kematian kerbau kesayangannya itu, kini kerbau milik Damianus tersisa lima ekor.

Dusun Wolotou, Desa Tou Timur, Kecamatan Kotabaru di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memang identik dengan ternak: kerbau, sapi, atau kuda. Kotabaru adalah kecamatan kedua terbesar penghasil ternak besar itu di NTT setelah Kecamatan Wewaria.
Letak Wolotou sekitar 160 kilometer sebelah utara kota Ende, persis di kawasan pesisir utara Flores. Kalau bepergian dengan mobil dari kota Ende butuh waktu paling cepat lima jam ke desa sabana penggembalaan itu.

Damianus pun berkisah, karena hubungan kekerabatan masyarakat tradisional pedalaman di sana begitu tinggi, dengan maksud baik, Damianus kemudian membagi-bagikan daging kerbau itu kepada kerabat dan tetangganya. Bahkan, sebagian daging ada yang dijual dengan harga murah. Ada yang bilang daging kerbau mati itu dijual Rp 25.000 per kumpul (tentunya dengan perolehan daging lebih banyak dari ukuran umum di pasar). Ada pula yang mengatakan daging kerbau itu dijual Rp 50.000-an untuk seukuran paha kerbau.

Beberapa hari setelah kematian kerbau milik Damianus, enam kerbau milik warga lain di sekitar rumah Damianus pun bertumbangan secara mendadak. Pemilik kerbau pun langsung memotong dan mengonsumsi daging kerbau mati itu.

Warga Wolotou tak menyadari bahwa tindakan memotong bangkai kerbau itu adalah awal dari malapetaka antraks, penyakit akibat Bacillus anthracis—bakteri berbentuk batang dan merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada manusia.

Kerbau yang mati itu menunjukkan gejala klinis terserang antraks bentuk akut, terjadi pembengkakan sangat cepat antara lain di bagian leher, dada, dan isi perut. Dari lubang kumlah (anus, hidung, dan telinga) keluar darah merah kehitaman.

Tiga hari setelah Damianus menyembelih kerbau dan memakan dagingnya, dia pun mulai merasakan gatal-gatal di beberapa bagian tubuhnya, badannya terasa panas, termasuk di tangan kanannya.

Ketika ia memeriksakan diri ke Puskesmas Kotabaru, dia didiagnosis menderita demam biasa, lalu diberi obat. Tetapi ketika di bagian tangan kanannya terjadi pembengkakan semacam bisul, dan kian besar mengeluarkan nanah, saat diperiksakan kemudian ternyata positif antraks.
Damianus Satu bersama sembilan warga lain dinyatakan positif antraks. Mereka itu merupakan pelaku utama yang memotong kerbau, juga mencuci dagingnya. Kasus antraks itu pun dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) sejak Sabtu (27/10) sebab telah terjadi peningkatan 100 persen penderita antraks.

"Sambe beta"

Tahun lalu (2006) terdapat penderita antraks di Kotabaru sebanyak lima orang. Selain itu, sebanyak 570 warga setelah didata telah mengonsumsi daging kerbau tersebut. Mereka pun diberi pengobatan untuk mencegah jangan sampai tertular.

"Saya tak mengetahui bahaya memakan daging hewan yang telah mati. Sebab kerbau saya itu sebelum mati tampak sehat, tak ada tanda-tanda sakit. Jadi, saya pikir dagingnya pasti sehat, tak apa-apa dimakan. Sakit yang saya alami pun saya kira sambe beta saja (semacam luka akibat gatal-gatal atau bisul)," kata Damianus Satu.

Masyarakat di Kotabaru umumnya sampai kini mengira luka akibat antraks itu serupa dengan penyakit kulit yang tak berbahaya atau akibat ru’u, semacam kutukan lantaran melanggar perjanjian adat atau sesuatu yang keramat. Dengan demikian mereka pun lebih meyakini penyakit itu dapat disembuhkan bukan dengan cara medis. Para penderita lebih cenderung melakukan pengobatan tradisional atau pergi ke dukun. Kalaupun ke puskesmas atau dokter hanya spekulatif, siapa tahu mendapatkan kesembuhan lebih cepat. "Kasus antraks merebak memang berkaitan juga dengan sikap, maupun perilaku masyarakat. Mereka menganggap penyakit antraks seperti sambe beta saja. Karena itu mereka pun berani memakan daging ternak yang telah mati. Mereka yang positif antraks itu juga yang mengonsumsi jantung dan hati kerbau dengan cara dibakar sambil minum moke (tuak tradisional)," tutur Camat Kotabaru, Kornelis Wara.

Menurut Wara, harga daging kerbau mati itu pun dijual murah. Wara juga sempat ditawari. Biasanya, ketika penjual ditanya, mengapa harga daging murah sekali, mereka biasanya menjawab bahwa hewan itu mati dipagut ular atau karena kepanasan.

Seharusnya begitu diketahui ternak mati mendadak, sebagai tindakan pencegahan bangkai hewan itu dikubur. Apalagi kalau memang menunjukkan gejala klinis antraks. Sebelum dikubur bangkai juga perlu dibakar, baru ditimbun dengan kapur.

Kerbau yang terindikasi antraks, seperti di Dusun Wolotou, semestinya langsung dikubur, tapi itu malah dipotong. Tindakan tersebut berisiko tinggi sebab ketika tubuh kerbau terbuka (disembelih), bakteri Bacillus anthracis yang kontak dengan udara (oksigen) akan membentuk spora yang jumlahnya begitu banyak. Spora antraks selain berbahaya juga tahan selama 60 tahun di dalam tanah kering.

Bupati Ende Paulinus Domi sebagai "orang tua" dalam konteks pemerintah daerah langsung meninjau Dusun Wolotou. Kunjungan bupati tentu dimaksud selain untuk melihat dari dekat kondisi "anak-anaknya", bupati juga menyampaikan beberapa pesan yang antara lain lebih bermuatan edukatif, sekaligus sosialisasi tentang bahaya antraks. Acara digelar dengan suasana kekeluargaan (dialog), tidak terlalu protokoler. Selain dihadiri warga, juga sembilan penderita (warga Dusun Wolotou) yang positif antraks.

"Bapak, ibu, dan saudara sekalian jangan lagi memakan daging hewan yang mati, ya. Karena itu berbahaya. Bapak, ibu bisa mati karenanya. Saudara yang positif (antraks) masih untung cepat ditangani. Manusia memang semua akan mati, tapi janganlah mati akibat kasus seperti ini. Jangan juga mempraktikkan iklan yang coba merah, coba daging... itu berbahaya," tutur Bupati.
"Jasad yang mati itu menjadi milik tanah. Jadi, seperti kerbau mati, dagingnya jangan dimakan, sebab sudah milik tanah. Untuk ternak supaya tidak terkena antraks harus rutin divaksin," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Donatus Randa Ma yang ikut memberi imbauan.
Dari 20 kecamatan di Kabupaten Ende, Kotabaru dan Wewaria merupakan daerah merah endemis antraks. Kasus antraks mulai terjadi di Flores tahun 1934. Namun, dua wilayah itulah paling tinggi jumlah populasi ternaknya di NTT.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Ende tahun 2004, dari total populasi ternak besar, seperti kerbau 2.913 ekor, populasi di Kotabaru paling tinggi, yaitu 773 ekor (26,5 persen), dan Wewaria 671 ekor (23 persen).

Sedangkan sapi dari total populasi 9.204 ekor sapi, dan 2.474 ekor kuda, populasi tertinggi ada di Wewaria—yaitu sapi 2.657 ekor (28,9 persen), dan kuda 407 ekor (16,5 persen). Kotabaru berada di urutan kedua, sapi sebanyak 1.587 ekor (17,2 persen), dan kuda 399 ekor (16,1 persen).

Wilayah NTT, baik di Pulau Timor, Sumba, maupun Flores, secara umum memang cocok untuk pengembangan ternak, mengingat di wilayah itu merupakan daerah padang rumput sabana yang luas. NTT juga dikenal sebagai gudang ternak di Indonesia, yang dulu bahkan hasil ternak dari NTT pernah menembus pasar internasional antara lain ke Singapura dan Hongkong.

Terkait kemiskinan

Sosiolog dari Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende (Puspas KAE) Romo Frans X Deidhae Pr mengatakan, kasus antraks Wolotou sangat berkaitan dengan kemiskinan. Meski warga telah mengetahui kerbau mati seharusnya dikubur, tapi tetap nekat mengonsumsi. Ini masuk akal, karena bagi mereka menikmati daging adalah sesuatu yang sangat jarang.

"Kotabaru merupakan wilayah yang amat terpencil di utara. Daerah itu memang relatif tertinggal dari wilayah lain di Ende. Warga di Kotabaru mungkin makan daging kerbau setahun sekali atau pada saat pesta adat," kata Romo Deidhae.

Selain itu, kosmologi mistik mereka juga masih tinggi, dan pola pikir pun masih sangat arkais yang masih berpegang kuat pada keyakinan turun temurun. Karena penyakit yang diderita dianggap akibat kekuatan jahat, penyembuhannya pun dinilai ampuh dengan cara supranatural, bukan medis.

Keyakinan tradisional etnis Ende-Lio apalagi yang tinggal di pedalaman sangat kuat pada keyakinan semacam itu Ketika obat dokter tidak mempan, biasanya mereka segera memilih pengobatan alternatif. "Perilaku masyarakat itu juga ada korelasinya dengan antara kemiskinan dan minimnya tenaga medis, maupun fasilitas kesehatan di pedalaman," tuturnya.

"Agama masih dipandang sebagai ritual saja sehingga di luar itu masyarakat cenderung kembali lagi pada mitos magis yang diyakini," kata Ketua Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas KAE itu. (SAMUEL OKTORA)
Sumber: KOMPAS, 7 November 2007
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger