Headlines News :
Home » » Mari Alkatiri: Bukan Reinado yang Menembak Horta

Mari Alkatiri: Bukan Reinado yang Menembak Horta

Written By Ansel Deri on Monday, February 18, 2008 | 10:20 AM

Drama berdarah itu berlangsung di kediaman Presiden Jose Ramos Horta dan mobil yang ditumpangi Perdana Menteri Xanana Gusmao dalam tempo berbeda Senin pekan lalu.

Xanana selamat. Ramos Horta, yang baru saja selesai berolahraga, rebah bersimbah darah setelah dihajar rentetan tembakan di halaman rumahnya.

Mayor Alfredo Reinado, 42 tahun, yang memimpin serangan pagi itu, juga tumbang ke tanah. Tapi dia tak pernah bangun kembali. Reinado tewas bersama salah satu anggota pasukannya.

"Ini jelas kudeta. Saya tak akan membiarkan pihak mana pun mengambil kesempatan ini," kata Xanana. Sejak itu, status darurat diberlakukan di seluruh Timor Leste.

Serangan bersenjata itu sebenarnya hanya puncak gunung es dari gejolak politik yang melanda negeri tersebut bertahun-tahun. Ada yang menyebut ini ekor kerusuhan Mei 2006, yang pecah akibat kebijakan Mari Alkatiri.

Mari, Perdana Menteri Timor Leste saat itu, ingin merampingkan jumlah personel militer. Sekitar 600 tentara tergusur. Mereka memprotes dan menuduh kebijakan Alkatiri diskriminatif.

Sehari setelah penembakan terhadap Horta, sejumlah jurnal di Dili menuliskan tudingan kepada Mari dan tuduhan bahwa partainya terlibat dalam aksi Reinado. Mari membantah dengan tegas. Di tengah ketegangan situasi darurat Timor Leste, Mari menyempatkan diri menerima kontributor Tempo di Dili, Jose Sarito Amaral, untuk wawancara khusus. Perbincangan berlangsung di teras rumahnya Jumat pagi lalu. Berikut ini petikannya.

Apa komentar Anda tentang penembakan terhadap Presiden Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana?Semua masih misterius dan saya tak mau berspekulasi masalah ini. Yang jelas, kematian Reinado memunculkan kian banyak pertanyaan. Apalagi ia mati sebelum Presiden Horta tertembak. Artinya, Reinado sebenarnya tidak berniat membunuh Horta karena dia mati lebih dulu. Ini yang membuat saya bingung.

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas dua serangan itu?Sekali lagi, sulit menentukan siapa dalang insiden itu. Saya hanya tahu bukan Reinado yang menembak Presiden Horta. Anehnya, satu jam setelah penembakan, ada serangan terhadap Perdana Menteri Xanana Gusmao. Semua ini harus membutuhkan investigasi khusus segera. Saya mengusulkan tim investigasi internasional yang profesional.

Menurut Anda, siapa yang layak dituduh?Saya tak mau menuduh siapa pun karena itu perlu bukti dan investigasi mendalam: kenapa serangan Reinado secara militer amat tidak profesional dan dilakukan bersamaan. Ini kan aneh. Menurut saya, penembakan terhadap Horta dilakukan kelompok terorganisasi.

Sejumlah kabar menyebutkan serangan itu terkait dengan pertemuan para politikus dengan Presiden Horta seminggu sebelum insiden....
Menurut saya, ini amat berkaitan. Memang, ada pertemuan tokoh politik di kediaman Horta seminggu sebelum insiden. Yang hadir Partai Conselho Nacional Reconstrusaun Timorense (CNRT) pimpinan Xanana Gusmao, Partai Sosial Demokrat, Asosiasi Partai Demokrat-Sosial Timor (ASDT), dan Partai Fretilin.

Apa yang dibahas dalam pertemuan itu?Presiden Horta menyambut baik proposal Partai Fretilin yang diajukan ke Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Intinya, menyatukan semua partai dalam Aliansi Mayoritas Parlementer (AMP) dengan Partai Fretilin dalam membentuk pemerintahan inklusif, bukan pemerintahan persatuan nasional. Fretilin tak mau masuk pemerintahan persatuan nasional seperti ini. Inisiatif ini (diambil) untuk menyelesaikan masalah Alfredo Reinado, tentara desersi pimpinan Salsinha Gastao, juga para pengungsi.

Di antara elite partai, menurut Anda, ada yang terlibat?Saya hanya ingin mengatakan orang di balik penembakan Horta mungkin tak setuju dengan inisiatif Presiden membentuk pemerintah baru dan pemilihan ulang.

Sebagai oposisi, bukankah partai Anda berpeluang melakukan kudeta?
Kami ingin pemilu ulang, bukan kudeta. Apalagi Presiden Horta sudah menyetujuinya. Tapi tiba-tiba kelompok Reinado mengambil jalan kudeta melawan negara.

Kami ingin meminta konfirmasi apakah Anda terlibat dalam gerakan di atas?Banyak surat kaleng yang menuding saya di balik semua ini. Mereka tak mau saya kembali menjadi perdana menteri dan mengatakan mau berbuat apa saja asalkan Alkatiri tak kembali menjadi perdana menteri. Semua orang membenci saya. Sudah saya jelaskan tadi, jika saja Horta tidak tertembak, kesepakatan pembentukan pemerintahan inklusif dan pemilihan ulang akan dilakukan. Dan itu usul partai saya. Jadi kenapa saya harus membunuh atau melakukan kudeta?

Banyak kabar beredar, Anda dan Fretilin di belakang aksi Reinado?Sudah menjadi budaya di Timor Leste, kalau ada masalah, orang selalu menuduh Mari Alkatiri. Tapi itu tidak apa-apa. Makanya, saya menuntut dibentuknya komisi investigasi internasional. Misi integrasi PBB dan pasukan stabilitas internasional di Timor Leste juga harus mengklarifikasi lemahnya pengamanan mereka selama di Timor Leste. Kenapa mereka bisa tidak mendeteksi akan adanya penyerangan itu, padahal posisi mereka amat dekat?

Menurut Anda, apa sebenarnya motif kelompok Reinaldo?
Fretilin tidak pernah menggunakan Reinado untuk kepentingan politik. Saya tidak pernah berpisah dengan Reinado karena saya tidak pernah bersama dia. Mereka yang bersatu menjatuhkan pemerintah saya, tapi sekarang mereka berpisah. Menurut Anda, ada apa di balik semua ini?

Anda setuju dengan gerakan Reinado?Ini bukan persoalan mendukung gerakan Reinado atau tidak. Saya ragu kenapa harus terjadi.

Benarkah, beberapa hari sebelum penembakan, Reinado bertemu dengan sejumlah anggota parlemen?
Ada tiga anggota parlemen yang bertemu dengan Reinado tiga hari sebelum penembakan. Mereka dari Fraksi PSD/ASDT dan PD. Saya hanya membayangkan, kalau anggota parlemen dari Fraksi Fretilin bertemu dengan Reinado saat itu, entah sekarang orang bilang apa. Pertemuan mereka rahasia dan tentara internasional sempat mendeteksi mereka. Karena itu, Jaksa Agung harus menyelidiki mereka. Saya tak mau menuduh mereka terlibat penembakan ini. Tapi, sekali lagi, harus ada investigasi untuk mencari kebenaran.

Sejak merdeka, kekerasan seperti tak pernah berhenti di Timor Leste. Mengapa?Ini karena ada kelompok yang memutuskan memakai kekerasan untuk berpolitik (berkuasa). Seharusnya pengalaman membuat kami belajar memahami kehendak rakyat.
Sumber: Koran Tempo, 18 Februari 2008
Share this article :

0 comments:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Ramches Merdeka
Copyright © 2011. Ansel Deri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger