Headlines News :
Home » » Mari Kita ke Flores dan Lembata

Mari Kita ke Flores dan Lembata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Tuesday, August 25, 2009 | 3:49 PM

Oleh Steph Tupeng Witin
Anggota JPIC SVD Ende

Tulisan Abraham Runga Mali di Pos Kupang, Selasa 11 Agustus 2009 bertajuk "Jangan Asal Tolak" terasa 'menggelikan'. Saya teringat, beberapa tahun silam saat rakyat Lembata bersama aktivis LSM dan gereja lokal Dekenat Lembata menolak rencana pertambangan, seorang rohaniwan Katolik menulis artikel bertajuk "Jangan Berpikir Bodoh."

Hemat saya, kedua tulisan ini menggambarkan superioritas intelektual, boleh jadi setumpuk pengalaman dan pengetahuan yang masih harus didiskusikan dan disinkronkan dengan realitas kesederhanaan berpikir rakyat kita. Belum lagi, jika pengalaman intelektual dan lapangan yang kita dapatkan di sebuah tempat yang jauh lebih maju, misalnya di dalam diktat kuliah dan buku-buku pesanan perusahaan tambang, tidak mesti begitu gampang dilekatkan pada kasus tambang di Flores-Lembata.

Saya mengerti, Abraham Lunga Mali sebagai wartawan senior Bisnis Indonesia tentu punya banyak pengalaman terkait pertambangan di berbagai belahan dunia. Sebagai jurnalis senior, tentu sudah banyak kali diundang oleh perusahaan-perusahaan tambang dunia untuk menyaksikan pertambangan yang katanya 'ramah lingkungan' itu.

Tulisan Mali terasa jauh menghantar rakyat NTT khususnya Flores-Lembata untuk belajar pertambangan dari Australia. Katanya, di sana ada pertambangan yang ramah lingkungan. Bahkan menurut Mali, kita tidak perlu jadikan kasus Buyat dan Lapindo sebagai rujukan untuk menilai pertambangan. Mengapa tidak? Mengapa mesti ada monopoli dalam upaya mengakses informasi? Tentang Buyat, anggota DPRD Lembata, aparat dinas terkait dan beberapa kepala desa yang 'senang dibayar' pernah studi banding tapi tidak pernah sampai di lokasi. Lalu mereka kembali membohongi rakyat. Ketika tim investigasi JPIC OFM membuka kedok ketidaksampaian di lokasi, beberapa anggota DPRD akhirnya 'buka kartu' kebohongan.

Barangkali Saudara Mali lebih tertarik menghantar rakyat Flores-Lembata ke Australia karena memang 'sarat jaminan' tetapi rakyat di Manggarai sudah merasakan derita tak tertahankan akibat eksploitasi alam atas nama pertambangan itu. Mali mengangkat contoh laporan perihal pameran bertajuk 'Australian Mining Exhibition and Conference-Ozmine' 2008 yang menghadirkan sekitar 50 perusahaan pertambangan yang memperlihatkan teknologi dan penerapan aktivitas pertambangan yang ramah lingkungan.

Apakah pernah ada perusahaan tambang yang akan dengan jujur memamerkan kehancuran alam lingkungan di sebuah konferensi mewah seperti itu? Tentu menggelikan ketika sebuah perusahaan tambang yang telah sekian lama mengeruk keuntungan dan meninggalkan kehancuran lingkungan akan menayangkan realitas hidup rakyat pinggir yang tergusur dari area pertambangan dan yang kehilangan lahan pertanian produktif.

Mantan Direktur Walhi, Chalid 'Bruder' Mohamad mengisahkan bagaimana para aktivis lingkungan hidup yang memrotes kehancuran alam akibat pertambangan dihalang-halangi, bahkan dihambat untuk bersuara di sebuah konferensi internasional tentang pertambangan. Mana yang benar? Laporan jurnalis yang menghadirkan kemewahan sebuah pameran dan konferensi internasional, yang tentu dengan upah dan jaminan yang 'plus', ataukah berkeringat, berdarah dan berjuang bersama rakyat dan aktivis lingkungan yang tidak pernah berhenti diteror kekerasan dan uang? Saya yakin, banyak jurnalis juga sering menjadi tumbal penipuan dan pembohongan oleh perusahaan tambang yang memang pintar menyusupkan pengaruhnya.

Menurut saya, tulisan Mali menggambarkan keterasingannya dari denyut nadi perjuangan rakyat Flores-Lembata untuk menolak tambang. Tajuk 'Jangan Asal Tolak' seakan menggambarkan bahwa rakyat Flores-Lembata terlalu bodoh untuk menolak tambang yang oleh Mali disebut sebagai 'ramah lingkungan' dengan contoh nun jauh di Australia. Rakyat Lembata dan Flores menolak tambang bukan sebatas karena belum siap tetapi demi hidup dan masa depan. Tanah adalah ibu yang mengandung dan melahirkan. Tanah adalah hidup.

Mayoritas wilayah tambang adalah tanah produktif yang di atasnya hidup dan masa depan diletakkan. Tidak begitu gampang menyuruh rakyat pindah dari ulayat hanya untuk sebuah kepentingan perusahaan tambang yang berdaya rusak permanen.

Argumen Mali bahwa ada pertambangan yang ramah lingkungan, khususnya di Australia terasa 'menggelikan' ketika itu dijadikan parameter untuk mengeksploitasi tanah Flores-Lembata. Australia dan Flores-Lembata tidak bisa disamaratakan karena amat berbeda situasi, kondisi dan taraf kemajuannya. Belum lagi, opini itu tidak menyebutkan secara spesifik fakta dan data di lapangan tentang bagaimana yang dinamakan 'tambang ramah lingkungan' itu.

Tulisan yang lahir dari sebuah ruang pameran mewah dan konferensi tambang bertaraf internasional sekali pun rasanya tidak memiliki energi yang kurang dari cukup untuk mengubah komitmen rakyat Flores-Lembata yang tolak tambang. Jelas bahwa rakyat menolak tambang. Kenapa selalu dipaksakan?

Gerakan penolakan tambang dari rakyat Flores-Lembata, aktivis LSM dan gereja lokal bukan, sekali lagi bukan, sebuah aksi pencarian popularitas. Rakyat Flores-Lembata bersama gereja lokal dan kalangan LSM tidak pernah berjuang agar tidak dicap kalah pamor atau kalah bersaing dengan perusahaan tambang dan bisnis gurita internasional yang berselimutkan penjajahan ekonomi dan kekuasaan kapital yang rakus dan serakah. Rakyat Flores-Lembata sudah berabad-abad hidup sederhana, apa adanya dengan kondisi alam yang barangkali 'miskin' dalam ukuran segelintir orang NTT yang kebetulan berkesempatan makan hamburger dan minum hot chocholate di mall, kafe dan restoran mewah, entah di Jakarta maupun di Australia.

Jarang sekali ada orang NTT yang peduli dengan perjuangan rakyat Flores-Lembata melawan sergapan pengusaha tambang yang bersekutu dengan pemerintah daerah dan DPRD. Gereja hadir dan berjuang sebagai bagian dari keterlibatan untuk penyelamatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Gereja tidak pernah kalah bersaing.

Dalam kasus tambang di Flores-Lembata, justru perusahaan-perusahaan tambang kalah bersaing dengan rakyat yang teguh komitmen berjuang mempertahankan kelestarian hidupnya bersama gereja dan kalangan LSM. Para pengusaha tambang justru tersadar bahwa uang, teror dan kebohongan tidak akan pernah meluluhkan komitmen penolakan.

Maka, saya mengajak kita semua untuk terlibat di tengah pergumulan perjuangan rakyat Flores-Lembata. Secara geografis, tanah Flores-Lembata masuk dalam lempeng jalur gempa bumi. Amat berbahaya untuk sebuah proses pertambangan. Mari kita ke Flores-Lembata. Hirup keringat dan darah perjuangan mereka. Agar kata-kata kita, pena jurnalistik berdaya, berenergi rakyat, bukan sebatas energi perusahaan tambang.
Sumber: Pos Kupang, 25 Agustus 2009
SEBARKAN ARTIKEL INI :

1 comment:

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger