Ratusan Umat
Katolik mulai dari anak-anak hingga orang tua, Sabtu (5/4) dengan tertib dan
hikmat mengikuti jalan salib merenungkan kisah sengsara dan wafatnya Yesus
Kristus keliling desa Belabaja, kecamatan Nagawutun, Lembata. Jalan salib
keliling desa itu mengikuti rute yang sudah disiapkan dengan jarak tempuh
sekitar dua kilo meter (km).
Sekretaris
Desa Belabaja, Yoseph Enga Alior sebelum dimulainya jalan salib itu
menjelaskan, peristiwa ini selalu dilakukan setiap tahun pada pekan kelima masa
Puasa. Jalan Salib ini merupakan prakarsa pemerintah desa untuk bersama umat di
desa Belabaja merenungkan sengsara dan wafatnya Yesus Kristus.
Enga
menjelaskan, setiap hari Jumat dalam masa puasa ini, umat tetap mengikuti
upacara jalan salib di gereja sebagaimana biasanya. Namun pada pekan ke lima,
Jalan Salib diselenggarakan di tingkat desa Belabaja sebagai sarana untuk mempererat
rasa persatuan diantara warga.
“Pemerintah
memprakarsai jalan salib keliling desa dengan tujuan agar semakin mempersatukan
masyarakat yang adalah umat katolik di desa ini untuk bersama-sama membangun
desa dalam semangat sengsara dan wafatnya Yesus Kristus. Artinya, masyarakat
juga diharapkan ikut bersama-sama dalam semangat kebersamaan dilandasi ajaran
Tuhan Yesus membangun desa ini dengan nurani yang bersih dalam semangat rela
berkorban demi kepentingan bersama,” katanya.
Enga Alior
yang juga memimpin ibadat jalan salib keliling desa Belajaba ini mengatakan,
beberapa tahun sebelumnya, mereka melaksanakan bersama desa tetangga yakni
Labalimut, namun tahun ini mereka menggelarnya di masing-masing desa.
“Kalau
tahun-tahun sebelumnya kita gabung dengan desa Labalimut, namun karena jarak
tempunya sangat jauh maka kita sepakat untuk laksanakan sendiri-sendiri.
Biasanya kita jalan salib mulai jam 15.00 dan baru berakhir sekitar jam 17.00
karena jarak tempuhnya sangat jauh. Pertimbangan waktu itulah maka kita
terpaksa pisah tahun ini,” katanya.
Seperti
disaksikan floresbangkit.com jalan
salib warga desa Belabaja itu dimulai tepat pukul 15.00 wita dan berakhir pukul
18.00 wita. Jalan salib dimulai dengan stasi pertama di dusun kemudian masuk ke
dusun keluang dan berakhir dengan peristiwa ke–14 di kantor desa Belabaja.
Umat Katolik
dengan khusuk mengikuti jalan salib mulai dari stasi pertama hingga stasi ke –
14 diiringin lagu-lagu bernuansa Lamaholot. Dalam perarakan dari stasi ke stasi
selalu diselingi doa dan lagu. Semua peserta jalan salib mulai dari anak-anak
hingga orang tua berjalan dengan khusuk ambil merenungkan peristiwa-peristiwa
penderitaan Yesus Kristus hingga wafat dan dimakamkan.
“Kami setiap
tahun mengikuti proses jalan salib keliling desa ini. Setiap Kelompok Basis
Gerejani (KBG) di desa ini diberikan tanggungjawab yang sama untuk menyiapkan
tempat-tempat dan segala keperluan lainnya untuk masing-masing stasi.
Kesempatan ini menjadi kesempatan baik untuk kami saling bahu membahu menyiapkan
tempat peristiwa sesuai pembagian dari desa,” kata Marianus Doron, warga dusun
Keluang, desa Belabaja. (Bonne Pukan)
Ket foto: Umat
Katolik dengan khusuk mengikuti jalan salib mulai dari stasi pertama hingga
stasi ke – 14 diiringin lagu-lagu bernuansa Lamaholot. (Foto : FBC/Bonne Pukan)
0 komentar:
Silahkan berkomentar
Tuliskan apa pendapatmu...!