Headlines News :
Home » » Editorial Bergaya Paradoksal

Editorial Bergaya Paradoksal

Written By Ansel Deri on Tuesday, September 19, 2017 | 2:52 PM

SEPUCUK surat dokter bisa membuat orang yang sangat sehat berubah menjadi orang sakit. Dan, selembar surat dokter pula bisa mengubah orang sakit menjadi sehat.

Tetapi bila penghuni gedung didominasi pikiran miring, bangunan yang tegak pun bisa dibilang miring. DPR telah menemukan habitatnya, yaitu sebuah gedung tegak yang memupuk semua pikiran dan selera miring’.

Dua alinea di atas berasal dari dua tulisan berbeda di harian ini. Yang pertama Editorial tentang terdakwa yang berlagak sakit, yang kedua Editorial tentang hasrat anggota DPR membangun gedung baru dengan alasan gedung yang dihuni miring. Yang pertama diterbitkan pada 31 Maret 2001, sedangkan yang kedua pada 4 Mei 2010.

Untuk karya jurnalistik, keduanya terentang jarak waktu yang tergolong panjang. Akan tetapi, kedua Editorial itu tetap aktual dan relevan hingga saat ini. Bahkan, karya itu dikenang mendalam di newsroom Media Indonesia sebagai model yang hidup, bahkan semakin hidup, justru ketika penulisnya, Laurens Tato, tutup usia, kemarin. Apa rahasianya?

Sebagai Pemred dan Wapemred Media Indonesia, saya dan Kakak Laurens bertahun-tahun bekerja di ruang kerja yang sama (sesama senior, atas keteladanan sang pemimpin, Surya Paloh, kami saling memanggil kakak).

Meja kami berdampingan dan diurus sekretaris yang sama. Konsep yang ditegakkan ialah pemred dan wapemred merupakan dwitunggal. Tak hanya itu. Cukup lama tinggal kami berdua bergantian menulis Editorial, yaitu setelah Imam Anshori Saleh menjadi anggota DPR (tinggal tiga penulis), lalu Djadjat Sudradjat dipromosikan menjadi Pemimpin Redaksi Lampung Post. Relasi yang intens membuat saya paham keunggulan Kakak Laurens.

Akan tetapi, kami berdua menyadari benar perlu dan pentingnya menghasilkan penulis baru Editorial dari generasi muda. Kami berbagi tugas, siapa mengajar apa. Ia tergolong penulis Editorial tercepat. Sepertinya argumentasi demi argumentasi bergaya paradoksal mengalir dengan sendirinya. Itulah sebabnya, saya memintanya untuk mengampu subjek perihal argumentasi dalam kelas pelatihan penulisan Editorial.

Hasilnya, argumentasi yang diekspresikan dengan kekhasan Editorial bukan lagi semata milik sedikit senior, melainkan juga jurnalis yang lebih muda, bahkan sangat muda.

“Bang Laurens ialah sosok penulis Editorial dan guru yang tidak tergantikan. Diksi Bang Laurens selalu terpilih, orisinal, autentik, jenaka, dan kaya paradoks,” kata salah seorang lulusan ‘sekolah’ Editorial Media Indonesia. (Maaf, sesuai kaidah, namanya sebagai penulis Editorial tidak disebut).

Setiap penulis memiliki rahasia sendiri dalam berkarya. Tidak terkecuali dalam karya yang berisikan sikap kolektif, sikap institusi, yang anonim, tanpa by line, seperti Editorial. Nama sang penulis tidak diketahui publik, tetapi rahasia kreativitas sang senior tidak untuk dibawa sampai mati.

Dalam perspektif itu, rekan dan sahabat Laurens Tato yang tutup usia kemarin tidak pernah pergi selamanya. Kakak Laurens tetap hidup di newsroom, hidup di dalam kolektivitas kami.

Semua itu suasana kebatinan dalam jurnalisme. Di situ hidup intelektualisme yang berbasiskan empirisme, yaitu hormat kepada fakta, di tengah ‘dingin’ atau ‘tajamnya’ rasio. Tapi di mana hati?

Kematian mestinya bukan kepastian yang ditunggu dalam umur 64. Sebagai sahabat, yang berulang menjenguknya dalam sakit, di rumahnya ataupun di rumah sakit, turut merasakan betapa bertahan hidup baginya sebuah perkara yang terlalu mendera untuk ditanggungkan.

Perkara itu kian menyayat hati karena sahabat yang ekspresif dan cemerlang dalam lisan ataupun tulisan itu sepenuhnya kehilangan semua kemampuan itu sejak terserang stroke pada 2013.

Kakak Laurens, pertarungan paradoks mati dan hidup telah final. Editorialmu telah abadi selesai. Tempatmu bukan di Karet, bukan di Tanah Kusir, bukan di San Diego Hills. Sesuai dengan permintaanmu, di kampung halamanmu, Desa Tenda Kinde, Flores, NTT. Ke sanalah besok engkau diterbangkan dalam damai, diiring doa kami. Selamat jalan, Kakak. (Saur Hutabarat) 
Sumber: Media Indonesia, 19 September 2017 
Ket foto: Alm Laurensius Tato Gani
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger