Headlines News :

Artikel Terbaru

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Annabel Ikut Pameran Lukisan Tomato Art School

Written By ansel-boto.blogspot.com on Sunday, March 01, 2020 | 9:07 AM


KREATIVITAS anak milenial terus dipacu dan berkembang, hal ini terlihat dari pameran lukisan yang dilakukan oleh sekolah melukis Tomato Art ke 9  yang berlangsung dari 29 Februari - 1 Maret 2020 di Lotte Shoping Centre, Jl Casablanca, Jakarta Selatan.

Deezal Annabel Putri atau akrab disapa Annabel, turut memamerkan hasil karya lukisannya tentang pelecehan (harrasment) dengan judul Case Study 01. Hal ini ia lakukan atas hasil penelitiannya dengan mendatangi dan mewawancarai si korban dan dituangkan dalam bentuk lukisan.

"Saya dan istri selaku orang tua tentu terus memberikan dorongan dan motivasi agar Annabel terus memperdalam dan mengembangkan bakat serta daya imajinasinya agar lukisan lukisannya semakin bermutu dan disenangi oleh orang lain yang melihatnya," ujar Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia  (MWA UI) Saleh Husin.

Pada pertengahan Desember 2018 Annabel juga pernah membuat pameran tunggal lukisan hasil karyanya di Kemang Jakarta Selatan dengan tema Sence Movement (Sense MVMT). "Saya juga berharap suatu saat nanti pameran karya anak-anak milenial ini dapat di lihat oleh Bapak Presiden Jokowi sebagai bentuk dukungan untuk para milenial dapat tampil di pentas internasional," lanjut Saleh Husin, mantan Menteri Perindustrian. 
Ansel Deri 
Ket foto: 
Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia  (MWA UI) Saleh Husin (paling kanan) bersama isterinya, Andresca (paling kiri), saat mendampingi sang putri, Deezal Annabel Putri, saat Pameran Lukisan Tomato Art School di Lotte Shoping Centre, Jl Casablanca, Jakarta Selatan, Sabtu, 29/2.

Wira Liman, Doktor Muda 28 Tahun Asal Lembata

Written By ansel-boto.blogspot.com on Saturday, September 07, 2019 | 9:47 AM

UNIK dan serba kejutan. Saya pikir tak berlebihan melabeli dua hal di atas. Tapi Wira, lengkapnya Dr Christian Wiradendi Wolor Liman, SE, telah membuktikan. Dalam bidang akademik.

Unik? Ya, unik. Serba kejutan pula. Itu pikiran saya saja sebagai sesama anak kampung di lereng Labalekan, gunung tertinggi di selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Usia Wira Liman baru merangkak angka 28 tahun pada 7 September 2019.

Wira putra pertama pasangan Pak Martin Pati Liman-Ibu Theodora Latu Andiyani, putri Jawa. Pada 7 Agustus 2019, anak muda asal Desa Puor, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT, ini berhasil meraih gelar akademik membanggakan: Doktor Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam usia terbilang muda, ia sukses meraih gelar bergengsi itu.

Dua bulan lalu, kaka Martin Liman, mengundang kami sekeluarga menghadiri pernikahan Wira, putra sulung, dengan gadis pujaan hatinya, Maria Sheren Oktavia (ade Shereen). Prosesi nikah suci berlangsung di Gereja Santo Arnoldus Janssen, Margahayu, Bekasi, Jawa Barat.

Dalam undangan, tertera tanggal pernikahan kedua calon mempelai berlangsung pada Sabtu, 7 September 2019. Tanggal ini adalah tanggal kelahiran Wira, sang pengantin pria. Penuh kejutan: mempertahankan disertasi doktor di UNJ, ulang tahun ke-28, dan tanggal pernikahan seragam: 7.

Nama kaka Martin, lama saya dengar saat masih di kampung. Bertemu sejenak saat ia dan kakak saya Hermina Barek bersama magun Ola Baran, seorang eks tentara yang bertugas di Timor Timur bertolak dari Ongaona (Onglerek), Wulandoni ke Jakarta. Martin "melarat" ke Jakarta untuk bekerja. Kakak saya juga melanjutkan SMA di Jakarta.

Saya bertemu kaka Martin Liman saat tiba di Jakarta akhir Agustus 2008. Kala itu saya memutuskan masuk Ibu Kota agar adik saya juga punya kesempatan kuliah di Kupang setelah ia bertahan setahun saya menuntaskan kuliah di Kupang.

Dalam beberapa kesempatan, saya dan kaka Martin sekadar bertemu dalam beberapa kegiatan aksi unjuk rasa buruh di bundaran Hotel Indonesia. Martin rupanya pengurus serikat buruh.

Beberapa kali saya bertamu ke rumahnya di Bekasi. Sekadar berbagi cerita tentang kampung halaman. Ia juga berbagi resep bagaimana hidup dan bertahan di tengah persaingan kerja di Ibu Kota.

Suatu kali ia mengingatkan saya, bekerja di Jakarta tak sulit tetapi kesempatan emas bisa jadi pelit tatkala kepercayaan sudah hilang. Karena itu tatkala ada keprercayaan maka rawatlah kaik-baik, kerjakan dengan tanggungjawab. Kesempatan tak akan datang dua kali.

Martin dan sang isteri, ibu Yani, tergolong pasutri yang asyik kalau ngobrol. Begitu juga ketiga anaknya, Wira, Indah, dan Adri Liman. Kesan saya, ketiga anaknya ini juga gaul. Mudah kalau diajak ngobrol. Saya pikir ini juga lahir dari teladan orangtua.

Asyik dengan rutinitas Ibu Kota, kerap kami tak bersua. Lebih sering ngobrol via telepon sekadar say hello. Tak terasa ketiga anaknya juga menyelesaikan studi sarjana. Putra bungsu, Adri Liman menyelesaikan studi di Universitas Brawijaya, Malang.

"Sudah selesai kuliah, om. Sarjana," kata Adri saat ngobrol sejenak di Gereja St Arnoldus Jansen Bekasi. Sedang Indah, putri semata wayang Martin juga sudah menyelesaikan studi sarjananya. Ia pemegang gelar SE.

Sabtu pagi ini, beberapa keluarga asal lereng Labalekan: Posiwatu, Imulolong, Puor, Boto, dan beberapa kampung lain? kami semua bertemu. Menghadiri acara pemberkatan nikah suci Wira dan gadis pilihannya. Rame, tentu. Ini kebahagiaan pasutri kaka Martin Liman-kaka Yani.

Kebahagiaan pengantin pria, anak muda asal lereng Labalekan. Wira, si doktor muda ini menyuguhkan kabar menggembirakan. Inspiratif. Mengejutkan. Unik. Bagaimana tidak? Ia menggondol gelar akademik: doktor pada usia belia. Satu bulan lagi, ia merayakan dua syukur sekaligus di tanggal yang sama: merayakan ulang tahun dan melepas masa lajang.

Ini kabar baik. Terutama seputar dunia pendidikan bagi anak-anak asal lereng Labalekan. Tuhan sungguh baik. Selalu baik. Bagi umat-Nya yang sungguh menyadari diri sebagai makluk pilihannya. 
Jakarta, 7 September 2019 
Ansel Deri 
Ket foto: 
Dr Christian Wiradendi Wolor Liman, SE usai mempertahankan disertasi doktor di Ubniversitas Negeri Jakarta pada 7 Agustus 2019 (foto 1).
Wira Liman (kiri) bersama dua adiknya, Indah dan Adri serta kedua orangtuanya, Martin Liman dan Ibu Yani (foto 2).

Seleksi Terbuka, UI Nantikan Tujuh Calon Rektor

Written By ansel-boto.blogspot.com on Wednesday, September 04, 2019 | 4:55 PM

SIVITAS  akademika Universitas Indonesia (UI) mengharapkan melalui seleksi yang terbuka sekaligus mendalam akan terjaring kandidat rektor yang mumpuni.

“Kami berharap panitia khusus berhasil menyaring tujuh kandidat yang selain berkualitas secara akademis juga berintegritas guna dibawa ke Rapat Paripurna Majelis Wali Amanat, dan diumumkan kepada publik pada tanggal 16 September mendatang,” ujar Ketua Majelis Wali Amanat UI, Saleh Husin saat menyaksikan proses seleksi yang digelar Panitia Khusus Pemilihan Rektor UI dengan melibatkan 20 orang kandidat. Demikian keterangan tertulis Saleh Husin yang diterima di Jakarta, Rabu (4/9).

Saleh optimistis seleksi yang digelar Panitia Khusus Pemilihan Rektor mampu memenuhi harapan tinggi sivitas akademika akan sosok rektor yang selain mampu membawa UI memasuki lingkup 200 perguruan tinggi terbaik dunia dengan menggandeng seluruh potensi alumni yang dimiliki, juga sigap menjawab dinamika dunia pendidikan tinggi.

“Sejumlah masukan berharga dalam pansus dari sosok seperti Pak Darmin Nasution, Bu Sri Mulyani, Pak Bambang Brojonegoro berikut metode penilaian berjenjang melibatkan lintas pihak seperti PPM Manajemen, BIN, BNPT hingga PPATK, kami yakini mampu memunculkan kandidat terbaik,” ujar Saleh yang menjabat Menteri Perindustrian Republik Indonesia periode 2014-2016. 
Ansel Deri 
Ket foto: Ketua Majelis Wali Amanat UI menjawab awak media usai menyaksikan proses seleksi tujuh calon rektor UI yang diikuti 20 orang peserta.

Tiga Hari Ratusan Siswa SMPN 2 Nagawutun Bertahan di Hutan

Written By ansel-boto.blogspot.com on Thursday, August 15, 2019 | 9:04 AM

SEBANYAK 158 siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Nagawutun, Kabupaten Lembata, bersama 12 orang guru dan dua pembina bertahan selama tiga hari di tengah hutan Klua Lef Molu, bekas kampung lama, tak jauh dari Desa Belabaja (Boto). Kegiatan ini dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka ke-58 tingkat Gudep SMPN 2 Nagawutun tahun 2019.

Di hutan di bawah lereng Labalekan, gunung tertinggi di Lembata itu, para murid dari Gugus Depan (Gudep) SMPN 2 Nagawutun bersama para guru dan pembina melakukan kegiatan perkemahan di tengah hutan yang didominasi pohon kemiri.

“Bersama para siswa kami melaksanakan kegiatan kemah pramuka Gudep Nagawutun 2 di Klua Lef Molu, Desa Belabaja selama tiga hari. Dimulai dari Senin 12 hingga Rabu 14 Agustus. Kami memilih tempat ini karena tak jauh lokasi sekolah,” ujar Konrardus Soni Labaona, Kepala SMPN 2 Nagawutun dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (14/8).

Menurut Labaona, kegiatan tersebut dipusatkan di hutan dengan harapan agar anak-anak menyatu dengan alam. Mayoritas orangtua siswa petani sehingga mereka bisa merasakan suasana alam, tempat di mana orangtua mereka hidup dan berkarya untuk kehidupan mereka. Anak-anak pun kelak diharapkan bisa hidup selaras alam.

Ia menjelaskan, pada hari pertama kegiatan kemah bhakti penggalang ini dimulai dengan pendirian kemah, apel pembukaan, materi pramuka, dan pendidikan iman Kristiani. Sedangkan, pada hari kedua, diisi dengan olahraga, bhakti sosial, kegiatan baris-berbaris, upacara api unggun, yel-yel Gudep, dan renungan malam.

Sementara itu, hari terakhir, dilaksanakan kegiatan olahraga, apel bendera, lomba memasak dengan bahan makanan lokal, makan siang, pembongkaran kemah, kegiatan penutup yang diawali dengan doa.

Labaona juga mengatakan, tujuan kemah bakti penggalang Gudep 2 Nagawutun yaitu mendidik dan membina generasi muda sekolahnya ke hal-hal positif guna meningkatkan karakternya sebagai calon pemimpin masa depan bangsa dan negara serta menjadi kader di lingkungannya dengan dasar dan metode kegiatan Pramuka.

“Selama tiga hari kami melaksanakan kemah di hutan. Dengan demikian, harapan kami ilmu dan pembinaan yang diterima menjadi bekal di kemudian hari. Melalui kegiatan ini, anak-anak juga diharapkan memiliki mental dan budi pekerti yang baik tak hanya di sekolah tapi di tengah masyarakat. Sesuatu yang menjadi harapan kami para guru, orangtua bahkan pemerintah,” kata Labaona. sarjana lulusan Universitas Flores, Ende.

Pembina Pramuka Raimundus Moniq juga merasa bangga karena bisa membantu menyukseskan kegiatan kemah bhakti ini berkat kerja sama dengan kepala sekolah, para guru, orangtua, dan semua pihak.

“Kami sangat senang karena kegiatan kemah Gudep 2 Nagawutun tahun ini didukung orangtua murid dan pihak komite sekolah. Mereka berharap kegiatan kemah seperti ini menjadi agenda rutin. Kami juga didukung tiga pembina luar yakni kaka Yoman de Ona, Dion Atawua, dan Rio de Ona. Ketiga kakak ini alumni sekolah kami,” jelas Raymon.

Menurut Labaona, kegiatan kemah apramuka di SMPN 2 Nagawutun sudah berlangsung sejak sekolah ini dipimpin kepala sekolah terdahulu, Petrus Perwain de Ona dan Bernadete Rete. Kegiatan ini merupakan yang keempat sejak ia dipercaya memimpin sekolah itu.

“Kemah di hutan Klua Lef Molu ini yang pertama sejak saya dipercaya jadi kepala sekolah. Kegiatan sebelumnya kami lakukan bersama Kwarcab Nagawutun di Loang, kota Kecamatan Nagawutun,” kata Labaona.

Kegiatan ini direspon tiga siswa, Fansos Mudaj, Butet Wujon, dan Ines de Ona. “Kami bisa belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan punya mental rohani dan spiritual yang baik,” kata Butet Wujon. 
Ket foto: Kegiatan kemah Pramuka di hutan Klua Lef Molu memperingati HUT Pramuka ke-58 tingkat Gudep SMPN 2 Nagawutun tahun 2019. 

Foto: Dok. ibu Juventa de Ona, guru SMPN 2 Nagawutun)
 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger