Headlines News :
Home » » Di Manakah Lorens Wadu Dibunuh?

Di Manakah Lorens Wadu Dibunuh?

Written By Ansel Deri on Sunday, June 14, 2015 | 5:18 PM

MARSEL Welan, Arifin Maran, Nani Ruing dan Vinsen Wadu  pada  sidang di Pengadilan Negeri Lewoleba tahun 2014 lalu mengungkapkan bahwa mereka menghabisi nyawa korban Lorens Wadu di pondok korban di hutan Keam, dekat pelabuhan Lewoleba pada Sabtu, 8 Juni 2013 lalu.

Pengakuan para terdakwa yang sudah dijatuhi hukuman seumur hidup (Vinsen Wadu) dan 18 tahun (Marsel Welan, Arifin Maran dan Naning Ruing) terus menjadi pertanyaan publik, apakah benar almarhum dieksekusi di pondok atau ditempat lain. Rakyat Lembata selalu bertanya, “Di manakah Lorens Wadu dibunuh?”

Tanda tanya publik soal tempat eksekusi almarhum Lorens Wadu terus menjadi pembicaraan masyarakat Lembata berdasarkan sejumlah kejanggalan yang terjadi. Masyarakat dikejutkan lagi dengan kesaksian Romo Yeremias Rongan Rianghepat yang melihat mobil merah diparkir di jalan di samping gudang dekenat Lembata yang mengarah ke kebun almrahum Lorens Wadu, pada Sabtu, 8 Juni malam tahun 2013 lalu.

Romo Yermin saat diperiksa di penyidik Polres Lembata mengatakan, dirinya tidak tahu siapa pemilik mobil merah itu. Mobil merah itu biasanya diparkir di rumah jabatan bupati Lembata.

Masyarakat semakin tercengang lagi ketika Surfa Uran atau lebih dikenal Uga Uran saat diperiksa oleh penyidik beberapa hari lalu terkait kasus pembunuhan berencana terhadap Lorens Wadu  memberikan keterangan bahwa dirinya sempat menonton rekaman di HP Cross berwarna putih milik Irwan Paokuma, di mana dua orang tersangka pembunuhan Lorens Wadu bersama dua orang yang tidak dikenalnya karena membelakangi kamera sedang mengangkat orang  yang dibungkus dengan kain.

Uga mengatakan, berdasarkan pengakuan Irwan Paokuma bahwa dia pernah bekerja di rumah jabatan bupati Lembata untuk memberikan makanan rusa peliharaan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur. Irwan saat konfrontasi dengan Uga Uran membantah keterangan Uga Uran. Irwan tidak tahu soal rekaman tersebut.

Bernadus Sesa Manuk mengatakan, keraguan masyarakat soal tempat eksekusi almarhum Lorens Wadu semakin kuat ketika Uga Uran diperiksa oleh penyidik Polres Lembata.

“Dengan adanya kejanggalan-kejanggalan di TKP (kebun korban) itu, saya sejak awal meragukan soal tempat eksekusi almarhum. Apakah benar almarhum dieksekusi di pondoknya, atau almarhum dieksekusi di tempat lain? Penyidik harus selidiki betul di rumah jabatan bupati berdasarkan keterangan dari Uga Uran,” katanya.

Irwan Paokuma boleh menyangkal bahwa dia tidak pernah menunjukkan rekaman tersebut, namun penyidik mempunyai cara lain untuk melihat apakah keterangan Paokuma itu benar atau bohong. Publik termasuk polisi sendiri tahu dan dengar bahwa kasus pembunuhan Lorens Wadu selalu dikaitkan dengan rumah jabatan, misalnya, soal mobil merah, soal video rekaman dua tersangka mengangkat orang yang dibungkus dengan kain di rumah jabatan, seorang anggota intel Polres Lembata membawa video rekaman kesaksian para tersangka di rumah jabatan untuk dinonton di rumah jabatan.

“Mengapa video rekaman keterangan tersangka dibawa ke rumah jabatan untuk dinonton. Saya sekali lagi meminta penyidik Polda serius untuk menyelidiki rumah jabatan, ada apa dengan rumah jabatan bupati?” katanya.

Periksa Bupati Yance

Mantan penjabat bupati Lembata Petrus Boliona Keraf yang ditemui Flores Pos di kediamannya, Sabtu (6/6) mengatakan, dengan adanya keterangan dari saksi-saksi soal mobil merah, kesaksian Uga Uran yang menonton rekaman dua tersangka sedang mengangkat orang yang dibungkus dengan kain di rumah jabatan bupati, anggota polisi yang membawa rekaman keterangan Marsel Welan dan kawan-kawan saat diperiksa oleh penyidik Polres Lembata untuk dinonton di rumah jabatan bupati, maka tidak ada alasan bagi polisi untuk meminta keterangan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur sebagai “pemilik” rumah jabatan atau yang menghuni rujab tersebut.

Piter Keraf yang adalah penjabat bupati Lembata di awal Lembata menjadi sebuah kabupaten yang otonom dan hampir dua tahun tinggal di rumah jabatan bupati mengatakan, rumah jabatan adalah rumah untuk pejabat protokoler yang dihormati oleh masyarakat. Rumah jabatan bupati Lembata adalah rumah adat yang sakral bagi masyarakat Lembata.

Di dalam rumah jabatan bupati atau rumah adat bagi seluruh suku-suku yang ada di Lembata bertakhta roh-roh leluhur Lewotana Lembata.

“Kami menghormati rumah jabatan ini karena kami menghormati arwah leluhur kami di Lembata. Jika benar bahwa pembunuhan Lorens Wadu terjadi di rumah jabatan, maka otak pembunuhan, pelaku pembunuhan termasuk orang-orang yang menyembunyikan kasus Lorens Wadu ini terkutuklah mereka,” ujarnya.

Jika benar pembunuhan di rumah jabatan, maka  mereka telah mengingkari keberadaan leluhur Lewotana Lembata. Sebagai tokoh masyarakat dan mantan pejabat bupati yang pernah menghuni rumah jabatan bupati Lembata ini, Piter meminta seluruh masyarakat Lembata yang melihat dan mengetahui kasus pembunuhan Lorens Wadu harus berani berbicara dan memberikan kesaksian.

“Saya meminta, kalau ada orang yang melihat dan mengetahui kasus Lorens Wadu, bukalah mulutmu  dan katakan yang sebenarnya,” katanya.

Ketika ditanya soal perasaannya sebagai mantan penjabat bupati yang pernah tinggal di rumah jabatan bupati, Piter Keraf mengatakan, jika benar bahwa pembunuhan terjadi di rumah jabatan, maka begitu teganya orang tidak menghargai rumah jabatan bupati sebagai simbol rumah adat seluruh suku yang ada di Lembata.

“Katakan benar seperti itu, saya mengatasnamai seluruh arwah leluhur nenek moyang Lembata, arwah para pejuang otonomi Lembata dan masyarakat Lembata mengutuk perbuatan itu dan meminta leluhur Lewotana Lembata  untuk menyikapi kasus ini dengan cara mereka sendiri,” tegasnya.

Keraf mengatakan, makna otonomi untuk menyejahetarakan rakyat. “Inikah makna dari perjuangan otonomi Lembata untuk menghalalkan perbuatan keji? Terkutuklah kami semua hai para pelaku, dan otak pembunuhan Lorens Wadu,” ungkapnya. 
Sumber: Flores Pos, 8 Juni 2015 
Ket foto: Bupati Eliaser Yenjti Sunur dan mantan Penjabata Bupati Piter Boliona Keraf
SEBARKAN ARTIKEL INI :

0 komentar:

Silahkan berkomentar

Tuliskan apa pendapatmu...!

 
Didukung : Creating Website | MFILES
Copyright © 2015. Ansel Deri - All Rights Reserved
Thanks to KORAN MIGRAN
Proudly powered by Blogger